Pages

Wednesday, April 8, 2009

UNGKAPAN ADALAH MAKANAN HATI


Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

اَلْعِبَارَاتُ قُوْتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِيْنَ وَلَيْسَ لَكَ اِلاَّ مَا اَنْتَ لَهُ آكِلٌ . رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ الْمَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ اِلَيْهِ وَذَلِكَ مُلْتَبِسٌ اِلاَّ عَلَى صَاحِبِ بَصِيْرَةٍ . لاَ يَنْبَغِى لِلسَّالِكِ اَنْ يُعْبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِى قَلْبِهِ وَيَمْنَعُ وُجُوْدَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ .

Ungkapan adalah makanan hati bagi para pendengarnya, maka engkau tidak akan mampu melakukannya kecuali terlebih dahulu telah makan. Terkadang orang mengungkapkan dari kedudukan orang yang berharap mendapatkan kemuliaan, terkadang diungkapkan oleh orang yang telah sampai di dalam kemuliaan, keduanya samar kecuali bagi orang yang mempunyai mata hati. Tidak patut bagi para salik mengungkapkan warid-warid yang datang kepada dirinya, hal itu meyebabkan berkurangnya amalan hati dan menghalangi kesungguhan kepada Tuhannya.(Hikam Ibnu Atho'illah)

Orang yang belum pernah merasakan penderitaan sakit gigi misalnya, bagaimana mungkin dia mampu menggambarkan rasanya sakit gigi kepada orang lain. Kalau toh dia mengenal sakit gigi, pengenalan itu tentunya hanya sebatas teori yang didapatkan dari membaca dan mendengar. Orang yang pernah merasakan sakit gigi, bila kebetulan dia juga orang yang ahli mengobati sakit gigi, tentunya lebih pandai mengobati sakit gigi daripada orang yang belum pernah sakit gigi.

Demikian pula orang yang mampu mengungkapkan keadaan yang batin, tentunya karena memiliki mata batin. Orang yang memiliki mata batin yang cemerlang, sesungguhnya karena telah mengalami kehidupan batin yang sempurna, itulah buah ibadah. Hasil dari melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Karena dengan ibadah, berarti orang tersebut telah terlatih menggunakan indera batin untuk berhadapan dengan alam batin. Itulah makanan spiritual yang hanya bisa didapat dengan dzikir secara istiqomah.

Ketika indera yang batin itu mampu terlatih dengan baik sehingga sorotnya menjadi tajam dan tembus pandang, disaat indera batin itu melihat gambaran yang lahir, maka “keadaan batin” yang ada dibalik “keadaan lahir” itu menjadi tampak terang. Ini adalah hal yang biasa. Artinya semua orang yang sehat lahir batin berpotensi mencapai kemampuan itu. Asal mereka mau melatih indera batinnya dengan benar, tentunya dengan bimbingan guru ahlinya.

Ketika orang yang matahatinya cemerlang itu melihat sesuatu yang batin. Disaat urusan batin yang menyangkut rahasia orang lain itu harus dilahirkan dihadapan orang banyak, maka secara spontan ungkapannya akan keluar melalui ucapan. Oleh karena itu, setiap ungkapan yang diucapkan selalu dengan menggunakan bahasa lambang yang terkadang masih membutuhkan penafsiran. Adapun bagi para murid yang hatinya sedang membutuhkan obat dari guru mursyidnya, mereka tidak harus susah-susah menafsirkan bahasa lambang tersebut, karena ungkapan itu adalah obat yang disuapkan guru mursyidnya untuk mengobati penyakit hati yang sedang dialami.

Oleh karena kemampuan mengungkapkan keadaan batin seseorang itu adalah hasil ibadah dan pengabdian yang panjang, maka para ahli itu selalu mendapatkan kemuliaan di tengah masyarakat. Itu disebabkan karena dengan kemampuannya sebagai dokter ruhani, dia selalu didatangi orang lain untuk dimintai pertolongan, baik untuk mencarikan jalan keluar dari masalah hidup yang sedang mereka hadapi maupun hanya sekedar berkonsultasi. Dengan yang demikian itu, maka keberadaan ahli batin tersebut dibutuhkan oleh orang yang ada disekitarnya.

Ungkapan tersebut adakalanya diungkapkan oleh orang yang sedang mencari kemuliaan dan adakalanya terungkap dari kedudukan yang mulia. Hakekat dua keadaan itu samar dan tersembunyi, kecuali bagi orang yang matahatinya telah menjadi cemerlang. Oleh karena dua hal itu merupakan keadaan yang batin, maka tanpa indera batin orang sulit membedakannya.

Orang-orang yang mampu mengungkapkan keadaan batin orang lain, karena mereka pernah mengalami perjalanan ruhani sebagaimana perjalanan ruhani orang batinnya diungkap itu. Bagian dari pengalaman ruhaniyah itu adalah warid-warid yang didatangkan sebagai buah dari wirid-wirid yang mereka dijalani. Setiap orang yang melaksanakan perjalanan ruhaniyah, apabila jalan yang ditempuh berada di jalan benar, jalan Allah, maka mereka akan mendapatkan warid-warid yang datangnya dari urusan ketuhanan. Dengan warid-warid tersebut, seseorang akan mendapatkan kelebihan hidup.

Namun demikian, bagi para salik tidak sepantasnya mengungkapkan warid-warid yang didatangkan kepada dirinya. Jika hal itu dilakukan akan menjadi penyebab keruhnya matahati yang mulai cemerlang sehingga hati itu akan kembali terhijab. Apabila hati mereka kembali terhijab, maka amaliyah yang dilakukan yang semula mampu menghidupkan ruhani akan menjadi amaliyah lahir yang hanya akan mendapatkan pahala saja, itupun manakala amaliyah tersebut dikerjakan dengan hati ihlas.

Adapun seorang guru mursyid thoriqoh yang hatinya telah terjaga dari sifat-sifat basyariyah yang tidak terpuji, mereka terkadang mengungkapkan warid-warid yang didatangkan kepada dirinya. Hal itu dilakukan, disamping bertujuan untuk memberikan bimbingan kepada para murid, juga melaksakanan perintah Allah untuk mencerikan kenikmatan yang didatangkan kepada dirinya sebagai perwujudan rasa syukur atas kenikmatan tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dengan firmanNya yang artinya: “Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya”(Adh Dhuhaa(93)11).

Dikisahkan dalam buku manaqibnya “Lujjaini Dani” yang ditulis oleh Asy-Syekh Ja’far bin hasan bin Abdul Karim al-Barjanji ra. Asy-Syekh Abdul Qodir Jailani ra. pernah mengungkapkan kewaliannya di depan orang banyak. Beliau berkata: “Syekh Husain Al-Hallaj pernah terpeleset satu kali dalam menjalankan kewaliannya, pada waktu itu tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Seandainya saya hidup sezaman dengannya, niscaya saya akan menolongnya. Karena saya harus menolong orang yang terpeleset dalam menjalankan kewaliannya dari sahabat-sahabatku, murid-muridku, dan orang-orang yang mencintaiku sampai hari kiamat, baik mereka terpeleset waktu masih hidup maupun setelah mati. Disebabkan karena kudaku sudah terpasang pelananya, tombakku sudah tertancapkan, pedangku sudah terhunus dan anak panahku sudah terpasang busurnya untuk menjaga muridku yang sedang lupa”.

Alam kewalian (warid-warid khusus yang diturunkan kepada orang-orang khusus), meskipun itu adalah anugerah utama yang hanya diturunkan Allah kepada para waliNya, namun demikian warid seperti itu terkadang malah membawa dampak negatif kepada pemiliknya. Seperti orang mabuk, ketika dengan fasilitas yang berlebihan, apa saja yang dikendaki seketika bisa terwujud misalnya, kelebihan seperti itu bisa menjebak pemiliknya merasa menjadi Tuhan. Mereka mengatakan: “Ana Al-Haq” (Aku adalah Tuhan). Padahal mereka itu hanyalah seorang hamba biasa sebagaimana hamba yang lain. Itulah yang dimaksud terpeleset di dalam alam kewalian. Seharusnya siapapun tetap merasa sebagai seorang hamba meski dia telah mendapatkan kelebihan yang luar biasa. Dalam kondisi terpeleset itu, harus ada seorang waliyullah yang mampu menolongnya. Orang yang mampu mengembalikan rasa dalam hati yang menyesatkan alam sadar itu ke jalur yang benar. Orang yang terpeleset dalam alam kewalian itu seperti orang yang tenggelam di dalam perasaan alam bawah sadar, maka harus ada tangan yang mampu menarik kembali ke alam sadar








Read More...

TANDA-TANDA MENGIKUTI HAWA NAFSU


Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

مِنْ عَلَامَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ اِلىَ نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ وَالتَّكَاسُلِ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ
Diantara tanda-tanda mengikuti hawa nafsu, giat melaksanakan amaliyah tambahan dan malas melaksanakan amaliyah yang diwajibkan. (Hikam Ibnu Atho’illah Assakandary)

Disaat semangat berbenah diri sedang menghangat, berarti pintu rahmat dan inayah sedang membuka hati. Ibarat kuda berlari, maka amaliah para salik yang semula tersendat menjadi tidak mau berhenti. Bangun malam yang biasanya berat, menjadi ringan sehingga dzikir dan sholat berjalan tanpa hambatan. Seperti ketika bulan Ramadhan datang, meski tanpa dikomando oleh atasan, musollah-musollah menjadi hidup dan masjid-masjid jama’ahnya melober ke jalan. Hal itu bisa terjadi, karena di bulan yang mulia itu Allah sedang mencurahkan rahmatNya di dalam hati yang mendapatkan perhatian.

Bagi seorang salik, meski semangat ibadah sedang tumbuh subur di dalam rongga dada sehingga jalan malam yang semula gelap gulita menjadi terang benderang, namun demikian, mereka tetap harus waspada dan selalu memperhatikan rambu-rambu jalan. Rambu-rambu itu bukan yang terpasang di persimpangan atau pertigaan jalan, tetapi tersembunyi di dalam rongga dada hingga orang lain menjadi samar. Rambu-rambu jalan itu ada diantara nafsu dan hati, sehingga selain orangnya sendiri sulit dapat mengenali.

Seorang salik dituntut tidak harus mampu membangun dan memakmurkan amal ibadah saja, tetapi juga mengenali sesuatu yang mendorong dibaliknya. Apa yang mendasari amaliah yang sedang ditekuni itu, hawa nafsu ataukah hati. Itu harus dilakukan, karena hasil yang dikerjakan akan bergantung dengan yang mendorong dari dalam. Apabila yang mendorong itu hati, berarti perjalanan amal akan sampai kepada tujuan. Namun bila hawa nafsu dan setan, amaliah itu malah akan memasukkan dirinya ke neraka jahannam.

Amal Sunnah dan Amal Wajib
Secara manusiawi setiap manusia enggan diperintah, kecuali terpaksa. Demikian pula orang yang ahli ibadah. Oleh karena itu, terkadang mereka cenderung lebih senang melaksanakan ibadah sunnah daripada yang wajib. Terkadang orang giat bangun malam. Mereka mengerjakan sholat dan dzikir semalam suntut bahkan di tempat sepi seorang diri, tetapi ketika menjelang saat waktu sholat subuh datang, sajadah segera dilipat, bantal dan selimut disekap hingga sholat subuh terlewat.

Padahal dzikir dan sholat malam hukumnya sunnah sedangkan sholat subuh hukumnya wajib. Ibadah sunnah adalah ibadah tambahan. Apabila ibadah wajib ada kekurangan maka yang tambahan dapat menyempurnakan. Meskipun ibadah tambahan dapat mengangkat kemuliaan, menguatkan iman dan menancapkan kecintaan sehingga hamba yang bertakwa mendapatkan kehormatan. Namun, apabila yang wajib ditinggalkan, itu pertanda dzikir dan sholat malam yang dilakukan itu hanya mengikuti dorongan hawa nafsu dan setan. Itulah rambu-rambu jalan, agar perjalanan seorang salik tidak tersesat di tengah jalan.

Apabila perjalanan malam yang mestinya menyampaikan kepada tujuan tetapi malah menyesatkan, maka cahaya yang terang bisa jadi menyilaukan. Akibatnya, batasan jalan menjadi kabur sehingga orang yang terlanjur tersesat, sulit diingatkan. Seperti orang mengatakan: “Bahwa sholat itu untuk dzikir kepada Tuhan”, itu mereka fahami dari sebuah firman: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS.Thohaa(20)14). Ketika mereka merasa dapat mengingat Tuhan, merasa dekat meski sedang tidak mengerjakan sholat, sehingga setiap kemauan serasa dikabulkan, selanjutnya sholatnya ditinggalkan, karena sholat dianggap hanya sebagai kendaraan.

Padahal, meskipun orang telah mendapat karomah besar. Dapat berjalan di udara seperti burung atau menyelam di dasar air seperti ikan. Sholat subuh itu seharusnya tetap dikerjakan. Itu hanya dengan satu alasan, bahwa sholat subuh itu perintah sedangkan karomah adalah pemberian. Bahkan tidak hanya itu, kemuliaan hidup itu diturunkan, karena seorang hamba telah melaksanakan kwajiban.

Terkadang bisa jadi nafsu yang mendorong ibadah haji, maka setiap tahun orang ingin pergi ke tanah suci. Dia ingin menjadi orang suci, namun juga tidak peduli meski uang ongkos haji itu didapat dari hasil korupsi. Itulah godaan setan yang diselipkan dalam hawa nafsu manusiawi. Dengan jebakan seperti itu banyak orang tersesat jalan dan lupa diri. Itu bisa terjadi karena perjalanan ruhani tanpa bimbingan guru sejati, sehingga perjalanan tidak sempat memperhatikan rambu-rambu jalan. Dalam urusan kebajikan, kemauan hawa nafsu dan hati memang sulit dibedakan, namun dengan konsep asy-Syekh Ibnu Atho’illah ra. di atas, maka yang semestinya samar menjadi terang benderang








Read More...

Hasil Liga Champions

Hasil liga champions dini hari tadi sebagai berikut :

MU Vs FC Porto : 2 - 2

Pencetak Gol :
MU : W. Rooney (15'), C. Teves (85')
FC.Porto : C. Rodriguez (4'), M. Gonzales (89')

Villareal Vs Arsenal : 1 - 1

Pencetak Gol :
Villareal : M. Senna (10')
Arsenal : E.S. Adebayor (66')









Read More...

Friday, April 3, 2009

Materi BK

Bagi mahasiswa BK kelas saya dapat download materi dan latihan di link di bawah ini. Untuk pertemuan 4 & 5 besok Sabtu, 4 April 2009, kuliah di mulai jam 09.00 di Lab. D.2.I.

Materi kuliah BK :
1. Materi Junior Web
2. Latihan
3. Tugas Akhir BK
4. Konsep Pemrograman (Pascal)

Mohon diperhatikan, untuk pertemuan besok konsep web yang dibuat harus sudah ada, dan segera di implementasikan sebagai tugas akhir dari mata kuliah BK. Jika sudah di implementasikan segera untuk di upload dan alamat site diberikan ke saya.

Selamat berjuang semoga sukses.








Read More...

Thursday, April 2, 2009

Shalat Khusyuk Tak Harus Bayar Mahal


”SYEH Mustofa, saya pernah ngaji di pesantren. Tetapi setiap shalat belum bisa khusyuk, mengapa? Mungkin syeh punya petunjuk dan saran ?”. Pertanyaan itu disampaikan seorang penelepon bernama Bahruddin dalam dialog interaktif dengan Syeh Mustofa Mas'ud Haqqani di Radio Dais (Dakwah Islam), Masjid Agung Jawa Tengah.

Mursyid Thoriqoh Naqsabandy Haqqani Indonesia itu menjawabnya dengan santai. ”Shalat itu disebut khusyuk apabila sudah memindahkan pusat pikiran ke hati by heart. Mana ada shalat khusyuk bisa dibeli jutaan rupiah dengan kursus dan penataran?” katanya.

Dialog di studio Radio Dais, lantai dasar Menara Al-Husna MAJT itu dipandu oleh reporter Karno dan Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Agus Fathuddin Yusuf.

Jamaah thoriqoh Syeh Musthofa tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Eropa Barat, Amerika Utara, Asia Tenggara dan lain-lain. Pimpinan tertinggi thoriqoh ini ada di Syprus yaitu Syeh Nadzim Haqqani, sedang menantunya Syeh Maulana Hisyam di Amerika Serikat.

Syeh Mustofa sendiri tak banyak menjelaskan jati dirinya. Ia hanya mengatakan asli Jombang, Jatim dan pernah kuliah di London. Menurut Prof Dr HM Amin Syukur MA, saat kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syeh Mustofa pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Sambil kuliah di IAIN, ia juga nyambi kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Kebanyakan yang kuliah di fakultas Adab, Bahasa Inggris dan Arabnya jago-jago,” kata Amin Syukur.

Ketika ditanya, di mana menetap bertempat tinggal? Ia mengatakan tidak tentu. Kadang di Jakarta, kadang di Semarang, Sumatera, Kalimantan, dan kadang-kadang keliling dunia. Di Semarang biasanya tempat zawiyah (tempat berkumpulnya murid-murid thoriqoh) di rumah Rosyad Ma'shum Jalan Erlangga Tengah Gang VI nomor 2. ”Kalau kebetulan ke Jawa Tengah, biasanya Syeh singgah di tempat kami. Jadwal acaranya sangat padat,” tutur Hajjah Rosyad.
Shalat Khusyuk

Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram. ”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok.

Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya.

Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.

Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun.(SM)








Read More...

Wednesday, April 1, 2009

KAROMAH DAN ISTIDROJ

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

رُبَمَا رُزِقَ الْكَرَامَةَ مَنْ لَمْ تَكْمَلْ لَهُ الإِسْتِقَامَةُ .

Terkadang orang mendapatkan karomah meski mereka belum sempurna melaksanakan istiqomah.(Hikam Ibnu Atho'illah As-Sakandary)

Orang menggali tanah di sawah misalnya, bisa jadi saat itu dia menemukan harta karun. Namun apabila pagi-pagi ada orang sengaja menggali tanah di sawah untuk mencari harta karun, maka barangkali itu merupakan pertanda pemikiran yang bodoh.

Karomah merupakan warid yang didatangkan kepada seorang hamba buah wirid yang dijalani secara istiqomah. Meskipun karomah buah istiqomah, tanpa kesempurnaan istiqomah bisa jadi orang tetap akan mendapatkan karomah. Hal itu disebabkan, karena karomah merupakan semata anugerah, sebagai hak prerogatif Raja Diraja yang Maha Pencipta, bukan sekedar hasil yang bisa diusahakan oleh seorang hamba. Jika datangnya karomah itu ternyata melalui tapak tilas sebuah usaha dan perjalaan hidup yang dilakukan, maka usaha itu sejatinya hanyalah sesuatu yang diciptakan pula, sebagai sebab supaya hasilnya bisa didatangkan sebagai akibat.

Meskipun karomah merpakan buah ibadah, yaitu buah ilmu, amal dan istiqamah, namun demikian derajat karomah lebih rendah dibanding istiqamah. Karena karomah seperti juga istiqamah sejatinya merupakan sarana. Namun bedanya, apabila karomah adalah sarana supaya seorang hamba mampu melayani makhluk dengan baik, maka istiqamah adalah bagaimana seorang hamba dapat mengabdi kepada Allah dengan sempurna. Karomah adalah sarana supaya seorang hamba dapat melaksanakan ibadah secara horizontal sedang istiqomah adalah sarana untuk melaksanakan ibadah secara vertikal.

Ibarat sayap, dengan istiqamah seorang hamba dapat terbang tinggi keharibaan Allah, sedangkan dengan karomah mereka harus turun lagi ke ladang dunia. Oleh karena itu, apapun yang menjadikan seorang hamba sampai kepada Tuhannya, itu adalah yang lebih utama daripada yang menjadikannya sampai kepada makhluk. Bagaimanapun lemahnya istiqamah karena ia mampu menolong seorang hamba dekat dan wushul kepada Allah, maka istiqomah akan menjadi bernilai lebih tinggi daripada karomah, karena karomah justru berpotensi menjauhkan seorang hamba kepada Tuhannya.

Itu bisa terjadi, apabila kedekatan seorang hamba kepada makhluk ternyata mengakibatkan hatinya condong kepada makhluk. Meskipun kecondongan hati tersebut sesungguhnya merupakan bentuk perwujudan dan penerapan cintanya kepada Sang Kholiq, maka sebesar kecondongan itu akan mengurangi kecintaan mereka kepada Sang Kholiq. Sebab, hati manusia hanya satu, apabila di dalamnya telah terisi oleh sesuatu maka yang lainnya pasti akan berlalu.

Datangnya karomah seringkali diawali dengan datangnya kemudahan dari Allah. Dengan kemudahan itu, yang semestinya orang lain tidak dapat melakukan suatu, seperti menolong kesembuhan orang sakit parah misalnya, padahal segala upaya dokter dan rumah sakit sudah tidak mampu menyembuhkannya, orang tersebut dapat melakukannya dengan mudah. Padahal, upayah penyembuah itu tidak mungkin berhasil kecuali dengan mendapatkan kehendak penyembuah dari-Nya.

Apabila kelebihan dan kemampuan seperti itu kemudian diakui sebagai kemampuan pribadi, bukan dengan mendapatkan pertolongan yang didatangkan dari urusan Ilahiyah, itulah pertanda bahwa kelebihan itu bukan karomah tetapi istidroj. Tanpa adanya pemahaman yang dalam akan urusan rahasia ketuhanan, sulit rasanya orang dapat membaca dan mensikapi realita yang didatangkan itu dengan benar. Hal itu disebabkan karena sebagian besar manusia terhijab dengan pengakuan nafsunya sendiri sehingga anugerah yang utama itu diakui sebagai kemampuan pribadi.

Oleh karena sebagian besar manusia kurang mampu mensyukuri anugerah besar tersebut, maka mereka tidak lagi mendapatkan tambahan dari kenikmatan yang utama itu. Terlebih ketika mereka berbuat kufur nikmat, maka sebagai akibatnya, ketika masa tangguhnya telah berakhir, kemampuan itu akan dicabut berangsur-angsur bersamaan dengan kehancuran pemiliknya. Oleh karena itu, dengan segala pelaksanaan ibadah dan perjuangan yang diistiqomahkan, hendaknya seorang hamba tidak berharap mendapatkan karomah. Apabila Allah menghendaki, maka karomah itu bisa saja didatangkan kepadanya, meski mereka belum pernah melaksanakan istiqomah dengan sempurna.








Read More...

Wednesday, March 25, 2009

Pengumuman BK

Pengumuman

Bagi Mahasiswa yang mengambil Mata Kuliah BK (dosen Ajib Susanto) untuk pertemun ke 2 di Lab. D.2.F Sabtu, 28 Maret 2009 perkuliahan dimulai jam 09.00.

Mohon dipersiapkan desain halaman depan untuk web-nya dan segera memulai membuat tugas dan dipersiapkan nama domain dan hostingnya.

Atas perhatiannya disampaikan terima kasih.








Read More...

Syaikh Mustofa ke Semarang

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Syaikh Mustofa hari ini Rabu, 25 Maret 2008 datang ke Semarang, dengan agenda sebagai berikut :

Rabu, 25 Maret 2009
- Siang rawuh/datang
- Malam Gambang Syafaat

Kamis, 26 Maret 2009
- Pagi pengajian di dr. Bowo, Kagok
- Abis Maghrib Pengajian Kitab Tanwirul Qulb dan Khatamul Kwajagan di Airlangga (Pa Rosyad)

Jum'at, 27 Maret 2009
- Jam 11, Khotbah Jum'at di MAJT
- Jam 13-15 Pengajian Ibu-ibu di MAJT
- Jam 19.00 ON AIR di Radio DAIS, MAJT

Sabtu, 28 Maret 2009
- ke Sumbawa, NTT

Sumber : Mufid

Bagi rekan-rekan yang berkeinginan hadir dipersilahkan meyesuaikan jadwal seperti di atas.

Jadwal lengkap klik disini.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh








Read More...

Wednesday, March 18, 2009

ASAL MULA TAAT DAN MAKSIAT

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

اَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَاَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمَ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Asal mula sumber segala kemaksiatan dan kelupaan serta kuatnya dorongan syahwat adalah senang memperturutkan nafsu, dan asal mula sumber segala keta’atan dan kesadaran serta kehormatan adalah ketiadaan senang darimu dari memperturutkan nafsu.(Hikam Ibnu Atho’illah)

Meskipun nafsu cenderung mengajak kepada kejelekan, tetapi ia tidak boleh dimatikan. Kalau dimatikan berarti manusia terjebak dalam kejumudan. Maka nafsu harus disiasati dan dikendalikan, jika tidak, maka manusia akan menjadi pesuruh kepentingan.

Hobi memperturutkan nafsu menjadi muassal kejelekan. Mendorong kejahatan dan kemaksiatan, membentuk sifat-sifat yang tercela dan melahirkan kemunafikan. Sedangkan “tidak senang” memperturutkan nafsu merupakan muassal keta’atan dan pengabdian, menjaga kesadaran dan mengokohkan kehormatan.

Ibarat api, nafsu harus dijaga dan dikendalikan, supaya kehidupan membagi kemanfaatan. Jika nafsu dibiarkan, terlebih ikut membonceng dalam kebajikan, maka ia akan menghanguskan impian dan harapan, berarti seorang pejalan akan tersesat dalam kekecewaan. Dengan nafsu dan setan manusia cenderung berbuat kemaksiatan, dengan ruh dan malaikat manusia cenderung berbuat ketaatan. Sedangkan akal dan ilmu harus menentukan pilihan. Ketika akal mengikuti nafsu dan setan, berarti manusia berbuat maksiat dan dosa namun ketika mengikuti ruh dan malaikat, berarti manusia berbuat taat dan mendapat pahala.

Hati adalah tempat cinta kasih, baik kepada sesama maupun kepada Sang Pencipta, juga penguasa di dalam ronga dada yang terjaga. Sedangkan nafsu dan akal bagaikan prajurit-prajurit atau sarana, manakala hati dapat mengatur roda kehidupan, menggerakkan segala perangkat supaya manusia mampu membangun cinta dan membagi pengabdian.

Manakala hati dikuasai oleh nafsu sehingga manusia cenderung memperturutkan syahwat dan hawa, maka itulah muassal dan sebab-sebab timbulnya segala kejahatan. Karena dengan menggunakan segala kecerdikan, hati menjadi perencana tunggal setiap kejahatan yang dilakukan.

Apabila hati dapat mengendalikan tentara supaya manusia dapat mencintai dan mengabdi, berarti itulah hati yang senang kepada kebaikan. Dengan itu akan menjadi pangkal segala kebaikan dan kebajikan, karena hati menjadi perencana setiap diam dan gerak yang dilakukan.








Read More...

Rahasia Dibalik Pujian

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

مَنْ اَكْرَمَكَ اِنَّمَا اَكْرَمِ فِيْكَ جَمِيْلَ سِتْرِهِ , فَالْحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ لَيْسَ الحَمْدُ لِمَنْ اَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ.

Orang yang memuliakanmu sesungguhnya hanyalah memuliakan keindahan penutup Allah yang ada pada dirimu, maka segala pujian hanyalah kepada Dzat Yang Menutupimu, bukanlah pujian itu ditujukan kepada orang yang memuliakan dan menerimamu.(Hikam Ibnu Atho’illah)

Setiap yang mulia mesti dipuji dan setiap yang hina terkadang dicela. Itulah sifat manusia. Namun ketika dipuji, itu bukan sebab manusia menjadi mulia, tetapi sifat kemuliaan Dzat yang Maha mulia menutup sifat yang hina. Itulah sifat khususiyah. Dengan sifat khususiyah itu, sifat basyariyah yang semestinya hina menjadi tampak mulia.

Ketika sifat basyariyah yang semestinya hina menjadi mulia, itu semata karena dibungkus sifat khususiyah yang azaliyah. Dengan sifat khususiyah maka manusia pantas dimuliakan sesama manusia. Namun yang dimuliakan itu sejatinya bukan sifat manusia secara basyariyah melainkan keindahan sifat khususiyah yang menutupi sifat basyariyah. Itulah keadaan orang-orang yang bertakwa. Mereka mulia dan dimuliakan orang karena batinnya mulia. Hal itu disebabkan, karena hati mereka telah disinari sifat kemuliaan yang memancar dari kemuliaan Tuhan Semesta Alam.

Yang dimaksud hati bukan gumpalan daging yang ada di dalam lambung manusia. Gumpalan itu hanyalah hamparan dimana hati sanubari yang batin bertahta. Jasad-jasad kasar yang hina sebagai rumah tempat tinggal “ruh kehidupan” akan menjadi mulia, namun itu apabila ruh kehidupan dipancari “Nur kemuliaan” dari Dzat Yang Maha Mulia. Seperti kegelapan malam ketika sirna dan ufuk bumi menjadi terang benderang, itu bukan karena bumi memancarkan cahaya, tetapi matahari sedang menampakkan senyuman. Kalau ada kemuliaan di atas kehinaan, sesungguhnya itu bukan milik yang kasar lagi hina, tetapi sekedar penutup dari Yang Maha Mulia.

Ketika orang memuliakanmu karena engkau memang pantas dimuliakan, ketika orang menghormatimu karena engkau memang terhormat, itu sejatinya bukan karena orang itu menghormatimu akan tetapi menghormati penutup keindahan yang menutupi dirimu. Maka hanya kepada Allah, segala pujian pantas dikembalikan.

Oleh karena pujian adalah pakaian kebesaran-Nya, maka hanya Yang Maha Besar yang pantas memakainya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kebesaran yang bukan milikmu. Jika tidak, maka engkau akan tertindih oleh kebesaran itu sehingga dirimu menjadi hina sebab pujian itu.

Padahal setiap jiwa senang dipuji, apalagi memang ia pantas dihormati. Akan tetapi hati yang ringkih tidak selamanya tahan dipuji, bahkan ia menjadi lebih kuat ketika sedang diuji. Apabila pujian sedang datang menguji, maka kembalikanlah pujian itu kepada yang sedang menguji, dengan itu engkau menjadi kuat baik sedang di puji maupun diuji.

Memang manusia merupakan makhluk yang mengherankan, ketika ujian sedang datang menghantam terkadang kehinaan menjadikan jiwanya semakin matang. Namun ketika giliran pujian orang sedang berdatangan, maka kehormatan semu yang terkadang hanya kamulflase dan bahkan bentuk kemunafikan menjadikan hatinya sempat mabuk kepayang. Selanjutnya kesombongan kosong menjadikan sebab kehancuran.

Adakalanya ketika manusia sedang terhimpit dan mengharapkan pertolongan, saat itu mereka justru mampu menjalankan peran. Bersabar meski di dalam kekurangan, bahkan menjalani kehinaan walau di dalam keterpaksaan, sehingga mereka mendapatkan kemanfaatan, karena berhasil mendapat simpatik orang. Namun anehnya ketika manusia sedang mampu memberi pertolongan. Sehingga mereka pantas mendapat penghormatan. Kemuliaan semu dan bahkan hanya kemunafikan dari orang-orang yang mencari perhatian, menjadikan kesombongan mampu menggantikan kedudukan kemuliaan. Itu karena manusia telah merasa berjasa. Merasa bangga karena hanya kepada dirinya orang membutuhkan pertolongan.

Bagi orang beriman, cacian dan pujian sejatinya sama-sama ujian. Dengan cacian berarti mendapat tusukan dari luar badan, dengan pujian mendapat tusukan dalam perasaan. Oleh karena tusukan dari dalam itu mengenakkan, maka jarang orang dapat bertahan dalam pujian orang. Sehingga pujian malah menjadi penyebab kehancuran. Karena dengan pujian hati yang ringkih menjadi terlena, disebabkan karena setiap yang mengenakkan pasti melalaikan.








Read More...

Popular Posts