Pages

Showing posts with label Naqsbandi Haqqani. Show all posts
Showing posts with label Naqsbandi Haqqani. Show all posts

Thursday, April 2, 2009

Shalat Khusyuk Tak Harus Bayar Mahal


”SYEH Mustofa, saya pernah ngaji di pesantren. Tetapi setiap shalat belum bisa khusyuk, mengapa? Mungkin syeh punya petunjuk dan saran ?”. Pertanyaan itu disampaikan seorang penelepon bernama Bahruddin dalam dialog interaktif dengan Syeh Mustofa Mas'ud Haqqani di Radio Dais (Dakwah Islam), Masjid Agung Jawa Tengah.

Mursyid Thoriqoh Naqsabandy Haqqani Indonesia itu menjawabnya dengan santai. ”Shalat itu disebut khusyuk apabila sudah memindahkan pusat pikiran ke hati by heart. Mana ada shalat khusyuk bisa dibeli jutaan rupiah dengan kursus dan penataran?” katanya.

Dialog di studio Radio Dais, lantai dasar Menara Al-Husna MAJT itu dipandu oleh reporter Karno dan Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Agus Fathuddin Yusuf.

Jamaah thoriqoh Syeh Musthofa tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Eropa Barat, Amerika Utara, Asia Tenggara dan lain-lain. Pimpinan tertinggi thoriqoh ini ada di Syprus yaitu Syeh Nadzim Haqqani, sedang menantunya Syeh Maulana Hisyam di Amerika Serikat.

Syeh Mustofa sendiri tak banyak menjelaskan jati dirinya. Ia hanya mengatakan asli Jombang, Jatim dan pernah kuliah di London. Menurut Prof Dr HM Amin Syukur MA, saat kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syeh Mustofa pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Sambil kuliah di IAIN, ia juga nyambi kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Kebanyakan yang kuliah di fakultas Adab, Bahasa Inggris dan Arabnya jago-jago,” kata Amin Syukur.

Ketika ditanya, di mana menetap bertempat tinggal? Ia mengatakan tidak tentu. Kadang di Jakarta, kadang di Semarang, Sumatera, Kalimantan, dan kadang-kadang keliling dunia. Di Semarang biasanya tempat zawiyah (tempat berkumpulnya murid-murid thoriqoh) di rumah Rosyad Ma'shum Jalan Erlangga Tengah Gang VI nomor 2. ”Kalau kebetulan ke Jawa Tengah, biasanya Syeh singgah di tempat kami. Jadwal acaranya sangat padat,” tutur Hajjah Rosyad.
Shalat Khusyuk

Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram. ”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok.

Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya.

Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.

Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun.(SM)








Read More...

Wednesday, March 25, 2009

Syaikh Mustofa ke Semarang

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Syaikh Mustofa hari ini Rabu, 25 Maret 2008 datang ke Semarang, dengan agenda sebagai berikut :

Rabu, 25 Maret 2009
- Siang rawuh/datang
- Malam Gambang Syafaat

Kamis, 26 Maret 2009
- Pagi pengajian di dr. Bowo, Kagok
- Abis Maghrib Pengajian Kitab Tanwirul Qulb dan Khatamul Kwajagan di Airlangga (Pa Rosyad)

Jum'at, 27 Maret 2009
- Jam 11, Khotbah Jum'at di MAJT
- Jam 13-15 Pengajian Ibu-ibu di MAJT
- Jam 19.00 ON AIR di Radio DAIS, MAJT

Sabtu, 28 Maret 2009
- ke Sumbawa, NTT

Sumber : Mufid

Bagi rekan-rekan yang berkeinginan hadir dipersilahkan meyesuaikan jadwal seperti di atas.

Jadwal lengkap klik disini.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh








Read More...

Wednesday, February 25, 2009

Doa Bulan Shofar & Shalat Sunnat Daf’il Balaa

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin


Hari ini Rabu, 25 Pebruari 2009 adalah hari Rabu terakhir di bulan Shofar, disunahkan sholat Daf'il Balaa 4 rakaat sebagaimana yang disampaikan oleh Syeh Mustafa Mas'ud kepada kita.

Lebih jelas tata caranya dapat di download di sini.
Semoga bermanfaat.

Wassalam








Read More...

Tuesday, February 3, 2009

Sufisika

Sufisika (gabungan dari Sufi dan Fisika, Bahasa Yunani: φυσικός (physikos), "alamiah", dan φύσις (physis), "Alam") adalah ilmu yang mempelajari keserupaan metafora atau pola berpikir atau perenungan antara sufisme dan Fisika Modern.

Apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional.

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang agak egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klassik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.

Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.

Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untuk berputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.

Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh Bohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang diungkapkan Einstein.

Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar) dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.

Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.

Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh pengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitian sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.

Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair Rumi:

"Aku adalah kehidupan dari yang kucintai

Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,

Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai".


Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:

"Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk". Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik– ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”

Rumi menulis dalam puisi yang lain “Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan konsep relativitas pada Fisika modern.

Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bang— dan galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.

Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat mempengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal usul semesta.Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui”

Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?

Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapat mempengaruhi materi (mind over matter).

Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.

(Muhammad Hikam)








Read More...

Thursday, November 20, 2008

Doa selama 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijah

Barangsiapa yang membaca doa berikut ini pada 10 hari pertama di Bulan Zulhijah, setiap hari 10 kali, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang (ia terpelihara dari dosa).


Laa ilaaha illallaah `adadad-duhuur
Laa ilaaha illallaah `adada amwaajil buhuur
Laa ilaaha illallaah `adadan-nabaati wasy-syajar
Laa ilaaha illallaah `adadal qathri wal mathar
Laa ilaaha illallaah `adada lamhil `uyuun
Laa ilaaha illallaah khayrum mimmaa yajma`uun
Laa ilaaha illallaah min yawminaa haadzaa ilaa yawmi yunfakhu fish-shuur



Sumber. Situs web http://www.madadulhaqq.net/content/view/35/34/
Read More...

Thursday, July 31, 2008

Allah Sebagai Tumpuan di Puncak Kesadaran Kita

Shohbet ini ditulis dengan bahasa asli yang keluar dari bahasa hati Syaikh Mustafa Haqqani melalui rekaman audio yang kami putar ulang. Semoga shohbet ini mengetuk pintu Allah agar wushul dan pintu karat hati akibat dari kelalaian, aniaya diri dan kesembronoan kita. Amiin.

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Allah Allah Azis Allah
Allah Allah Subhan Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Allah Allah Karim Allah

Saudara-saudariku,
Mari kita rentas tali hubungan yang hidup antara kita dan Allah untuk menghidupkan majlis ini, untuk membuka antenna parabola kita supaya yang dibilang oleh Prof. Dr. Amin Syukur tadi bisa di clearkan. Beliau bilang dengan rendah hati meminta maaf tidak bisa menyambut dengan sebaik-baiknya, tapi yang beliau berikan sudah lebih dari apa yang kita semua dapat capai, karena beliau menyambut kita dengan doa. Moga-moga ridho Allah terlimpah kepada kita. Apa ada hal yang lebih baik dari yang dibilang Pak Amin ? Tidak ada, sudah sangat bagus sekali. Tapi begitulah saudara-saudariku kita harus mengambil posisi dan memproposisikan diri dikehidupan kita. Mari kita tarik dan kita rentas hubungan real antara kita dengan Allah.

Allah Allah Azis Allah
Duh Gusti kulo niki hina, mboten wonten napa-napane (Ya Allah, saya ini hina, tidak mempunyai apa-apa). Aku adalah kesempurnaan dari ketidak berdayaan diri. Engkaulah yang maha Perkasa. Engkaulah yang Maha Suci. Monggo di gesangake (mari kita hidupkan) pertalian antara dua titik (hamba dan Allah) yang kita hidupkan dengan tulus. Itulah Islam, itulah penghambaan diri kita kepada Allah. Itu awal dari langkah kita untuk menjemput rahmat Allah. Rahmat memang diturunkan kepada kita, seperti partikel di udara, tak terbilang, tak pernah terhenti. Begitu ada ruang kosong, masuk dia (baca: udara). Itulah rahmat Allah. Rahmat yang mengimplikasikan barakah ridho dan keabadian karunia di alam baqa, yang bermula dari karsa. Karena itu kita sudah dimerdekakan oleh Allah untuk membangun sendiri karsa dikehidupan. Kita berada dalam track kehidupan yang seperti itu.

Allah Allah
Allah Allah Karim Allah
Oh… Allah…kehidupanku, kehidupan kami adalah suatu sense, suatu kesadaran mengenai mengenai kefakiran dan kebutuhan yang tiada pernah henti. Suatu kebutuhan belum tunai, datang kebutuhan lain. Aku dan kami tak berdaya Ya Allah. Engkau beri suatu gita dalam kehidupan kami untuk selalu butuh, padahal kami lumpuh, buntung, tidak apapun, tapi untung Engkau maha kaya dan pemurah. Engkau suruh kami untuk hidup secara baik dan benar begitu diberitahukan oleh kekasihmu Muhammad, yang selalu kami lupa. Kau suruh kami untuk menjadi baik dan benar., Kami sedang membangun keyakinan. Mana mungkin kami berjalan dengan baik dan benar bila Engkau tidak akan mencukupi kami. Yang tidak kami mintapun Engkau memberi.

Allah Allah Subhan Allah
Duh Gusti Kulo niki keliru terus Gusti. Mboten leren-leren. (Ya Allah, kami ini banyak salahnya, terus menerus berbuat salah). Maju sedikit mandur banyak, maju sedikit mundur banyak lagi, maju sedikit mundur banyak lagi. Akhirnya kemunduran yang aku jalani. Hakekat kehidupan kita ini adalah suatu kemunduran yang tidak bisa dibendung. Untung Engkau Maha Suci, memberi aku, memberi kami semua suatu track kehidupan yang positif “ Innaa sholata kaanat ‘alal mu’miniinaa kitaaban mauquta.” Engkau jaga kami dengan periode yang begitu close circuit, keliru Engkau hadang dengan tasbih, Engkau beri, Engkau luberkan kecucianMu, Engkau ajari kami bahwa ketika Nabi Muhammad dulu lahir, terlahir didunia ini dengan karsa serta manifestasi dari rahmatMu, seluruh isi cakrawala bertasbih. Subhanallah Walhamdulillah Walaa illaahaillallah Allahu Akbar. Engkau suruh kami untuk berada dalam close circuit dikehidupan ini bernyanyi bersama malaikat untuk meraih dan menggapai Nabi Muhammad. Maha Suci Engkau Ya Allah.

Allah Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Engkau adalah puncak kesadaranku Ya Allah. Engkau adalah sulthan, sulthan diantara sulthan-sulthan yang ada. Abadilah Engkau dipusat kesadaranku Ya Allah, bahkan di akar kesadaranku.

Saudara-saudariku,
Ketika aku dan kamu telah beranjak lebih maju untuk mengabadikan Allah sebagai tumpuan di puncak kesadaran kita, itulah dzikir, itulah Islam, itulah Ihsan. Anta buddallah kaanaka taroohu fainlam takun taroohu fainnahu yarooka (Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu). Kapan aku dan kamu punya prakarsa untuk mengahadirkan Allah dalam ruang lingkup consciousness/ kesadaran kita. Itulah masalah kita.

Saudara-saudariku,
Aku adalah ‘hadam’ (peladen, kacung, pelayan) dari tarekat naqshbandi. Kalau disebut “Haqqani” hanya karena Mursyid-ku adalah Muhammad Nazim Adil Al Haqqani, sulthanul auliya hadzihiz zaman, artinya siapa diantara kalian disini yang telah related dengan Tarekat Naqshbandi, that means “same with me”. Mau khodiriyyah naqshbandi, sama. Mau naqshbandi kholidiyah, sama. “Naqshbandi”. Naqshbandi adalah sesuatu yang menjadi sebutan attributive untuk menghadirkan Allah dengan sistematis yang kalau mau diungkap gambarannya dengan abstrak akan menyebabkan jidat kita berkerut. Aku mau bercerita, dan dengarkanlah dengan tawajuhmu, saudara-saudariku.

1427 tahun yang lalu ketika Rosulullah SAW harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayyidina Abu Bakar orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping Beliau dalam perjalanan menuju ke Madinah. Sayyidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan “Penuh Adab yang Bersungguh”, di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rosulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro (baca : tak sedikitpun) complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang (katanya menuju) Madinah, lha kok ngidul (kenapa lewat Tenggara). Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rosulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yang menjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang. Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rosulullah, karena di hati Beliau ada “CINTA” dan PERCAYA” dan sesuatu yang tidak lagi perlu “TAWAR MENAWAR”. Rosulullah, Al Amin, tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai. Pribadinya begitu rupa menimbulkan ‘desire’, suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk dijelaskan.

Beliau berjalan, dan Sayyidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, agak 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayyidina Abu Bakar sadar. “Ooo … mau istirahat ke Jabal/Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rosulullah naik, Oooo…kesimpulan Sayyidina Abu Bakar, with no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Islam adalah tuntunan dari Allah Ta’ala. Pertama-tama kita bukan ‘ngerti’. Pertama yang harus kita buat adalah Cinta, menghargai, kesediaan mematuhi dengan sangka baik. Tanpa kaca mata tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi “The Matter of Transaction”, tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rosulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan “Oooo …Rosulullah mau istirahat di Gua Tsur.” Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan digunung, pasti ada ular berbisanya. Itu ‘Reason’, pikiran digunakan sesudah Cinta, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang Well Enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (pikiran liar), yang bisa bertingkah macam-macam menimbulkan problem. Beliau Abu Bakar kemudian mendekati Rosulullah “Kasih aku kesempatan masuk. Rosulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayyidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3 orang, Pak Joko, Pak Amin dan saya (Syaikh Mustafa), barangkali sudah kruntelan disitu, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayyidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang disitu. Beliau buka slippernya/ sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rosulullah. Beliau tidak mau Rosulullah digigit ular. Akhirnya kakinya di catel, digigit oleh ular. Kemudian Beliau bilang, Silakan Masuk Rosulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon. Rosul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rosulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rosulullah. “Nangis kamu, kata Rosulullah.” “Tidak, jawab Abu Bakar, kakiku digigit ular.” There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rosulullah membentak si Ular “ Hai…Tahu nggak kamu, jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, bulunya pun haram sama kau.” Dialog Rosulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar As Shidiq, berkat mukjizat Beliau. Jawab si Ular “Ya aku ngerti kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan “Barang siapa memandang kekasihKu-Muhammad- fi ainil mahabbah / dengan mata kecintaan”, Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga. Kata Ular “ Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. Aku (ular) ingin memandang wajah kekasihMu fi ainal mahabbah. Jawab Allah “ Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya. Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu kamu, ya Muhammad. “Lihatlah, ini lihatlah wajahku, kata Rosulullah.” Ular itu memandang Rosulullah dengan penuh kecintaan, sesudah itu matilah dia. Datang ajalnya yang ma’tub, meninggal dengan sempurna. Ular itu telah mendahului kita untuk menyimpan rindu untuk bertemu Rosulullah ribuan tahun yang lalu. Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan “Assalamu’alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah”. Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rosulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akherat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi ‘abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq pagi ini, supaya aku dan kamu berkhitmad.

Sesungguhnya persoalan hidup kita sederhana, berhentilah dari lalai, berhentilah dari sembrono, berhentilah dari kebiasaan suka menunda, berhentilah dan keluar dari benua tidak tanggung jawab. Kalau ada kewajiban untuk membersihkan, kenapa harus nyuruh orang, kalau itu bisa dilakukan sendiri. Sedangkan kalau ada keenakan, cepat-cepat ditarik dan dimasukkan ke kantong sendiri. Keluarlah aku dan kamu, saudara saudariku dari semua kebiasaan buruk itu.

Nggak ada cerita Islam, nggak ada cerita Iman, nggak ada cerita Ihsan tanpa usaha kita untuk membebaskan diri dari hal yang nista. Kegiatan Abu Bakar As Shiddiq membersihkan diri dari hal-hal yang nista. Ini pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam qur’an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada didalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart. Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rosulullah. Seperti yang saya sebut dengan cerita tadi, ketika sudah mati ular yang mulia itu, Rosulullah meminta jin yang sedang ada di gua itu untuk mengebumikan jenazah ular min ahlil jannah itu. Maka kemudian dikebumikanlah ular itu oleh jin penjaga gua.

Ketika itulah terjadilah kongregasi, dari ruhaniah yang dijemput dari alam barzah maupun alam azali. Semua orang yang sudah barzahi atau yang masih azali ruhnya dihadirkan untuk berkhitdmat, berdzikir kepada Allah Ta’ala, yang mana dzikirnya disebut “Khtm Khwjagan”. Inilah yang disebut “Naqshbandi”. Aku berkhidmat untuk itu. Tarekat itu seperti kemasan permen fisherman ini. Kalau kemasan permen ini dibuka, isinya “Islam Plus Sungguh”. Islam yang cuman textual dan yang spiritually diajarkan oleh Rosulullah, itu tergambarkan begini : “Yang namanya “Ulama adalah orang yang tahu bagaimana mengartikulasikan perintah-perintah Allah yang ada di qur’an dan yang ada di hadits nabi. Seseorang yang punya kapasitas untuk menggambarkan apa-apa perintah Allah. Tapi orang yang tahu menterjemahkan irodah/ kehendah Allah, bukan Amru Allah itu adalah wali. Wali adalah manusia-manusia yang bisa menarik sesuatu yang merupakan dari diri Rosulullah.

Kisah Uways Al Qorni
Ketika Rosulullah mau wafat, beliau berpesan kepada Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali agar baju yang dipakainya diberikan kepada Uways Al Qorni Al Yamani. Sayyidina Ali bertanya dalam hati : Siapa dia, begitu istimewanya mendapatkan atensi yang besar dari Rosulullah. Uways Al Qorni adalah orang yang tidak pernah ketemu Rosulullah physically, tapi tidak sedetikpun berpisah dengan Rosulullah. Dia juga sangat mulia pengkhidmatannya pada ibunya. Sayyidina Umar kurang senang mendengar Rosulullah yang dicintai, bicara tentang kematiannya. Setelah Rosulullah wafat dan selesai dimakamkan, Sayyidina Ali bertanya kepada Sayyidina Umar, Ingatkah kau pesan Rosulullah.” Tentu aku ingat pesan Rosulullah untuk berpegang kepada qur’an dan sunnah Beliau. “Bukan itu, jawab Sayyidina Ali, tapi menyerahkan baju yang dikenakan Rosulullah ini kepada Uways Al Qorni. Oh..ya kelalen aku...lupa aku. Keduanya kemudian menuju ke Yaman, suatu kota kecil yang entitasnya kecil. Ketika sampai di Yaman, Beliau Tanya kepada orang-orang disana, dan banyak orang yang tidak mengenal nama “Uways Al Qorni. Rupanya Uways Al Qorni, itu di Yaman, di desanya namanya tidak terkernal, kalau disini seperti “Sarimin” atau “Sariman”. Akhirnya, singkat cerita, keduanya ketemu Uways Al Qorni yang sedang menyulam kurma dengan ibunya. Uways Al Qorni membelakangi Ali dan Umar, tapi bisa mengatakan “Cepat kesini, serahkan baju itu kepadaku. Ali dan Umar heran, tidak melihat kenapa bisa tahu. Lebih heran lagi Uways Al Qorni bisa mengetahui siapa yang sedang berhadapan dengannya, yaitu Ali dan Umar. Berkat kecintaan Uways Al Qorni ini dibukakan oleh Allah Basyirah. Jaid, syarat datang ke Islam adalah membawa kecintaan, karena sudah ditanamkan sejak jaman azali, dan akhlaq yang kita bangun adalah menghadirkan Rosulullah ke dalam diri kita. Uways Al Qorni adalah salah satu sosok yang hidup pada masa Rosulullah, tapi tidak pernah bertemu secara fisik, namun tak sedetikpun terlepas dengan kehadiran Rosulullah.

Allahumma inna nas aluka antas toyyiqabana minal ghaflah ilal khudur amma naka wa ammanar rosul wa ammanal masayih. (Mohon maaf bila kesalahan text kalimat, karena keterbatasan penulis). Ya Allah, aku mohon kepadaMu, bangkitkan aku dari lalai, untuk selalu terus dengan Kamu, dan selalu terkait dengan Rosul, dan selalu terkait Syaikh.

Wa min Allah at taufiq
Al Fatehah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Read More...

Monday, July 14, 2008

Power of The Hands

Power of The Hands with Illustrations
By: Shaykh Hisham Al-Kabbani


First step To Wash: [intention] niyyat
Turn the right over the left and the left over the right , You cannot begin with left over right.
So when you are washing the hands, it means the first movement you are doing is using the hands

Washing hands… up to wrist
Then you clean between the fingers and intersect the fingers with the fingers, coming like this, the right thumb on the left and the left thumb on the right.
a) First you are using 10 fingers. 10.
b) 10 is the power of computer, energy, zero and 1.
c) It is 10, one and zero.

That energy that Allah taught programmers is coming from hands. So they are channeling it in computers now, and you are seeing all the miraculous power that the computer can do.

d) So if the computer can do that, it represents 1 and 0, have that great power, they channeled into the computer to do magnificent work.
e) They channel that energy to heal. They use it without knowing why. They don’t know the Islamic aspect. The Islamic aspect is that the one and zero, and that I why you see if you open your hands and draw a line [connecting the fingertips] you form a circle.
f) So when you begin with the hands, rubbing them, when washing them and rubbing them to activate them, that is sign of 1 and zero, and you being to activate the process of what codes Allah has given us thru the hands, you being to activate them.

You wash the hands and in between the hands [fingers]
To get complete article click here.
Read More...

Spiritual Healing in the Islamic Tradition

Excerpt from “Spiritual Healing in the Islamic Tradition” by Shaykh Hisham Muhammad Kabbani, MD

About Energy And How Spiritual Healing Works

Spiritual healing is not at all a mysterious process but is in fact very straight forward, albeit oftentimes quite complex. The spiritual healing technique involves the energy field that exists around each of us. Everyone has an energy field or an aura that surrounds and interpenetrates the physical body. This field is intimately associated with the health of the human being.


In different cultures, energy is known by different names. The word "energy" is referred to as:
- Ki in Japanese
- Chi in Chinese
- Prana in Hindi
- Qudra in Arabic
  • Energy is the life breath transmitted to us from the Existing, Everlasting Superpower that overlooks human beings and all creation.
  • Energy regulates our thought patterns and emotions, is the source of our life force and is the animating factor in all living beings. It circulates through our bodies and can be harnessed for healing.
  • It is the source of all movement in the universe. When the human body loses its life breath the original energy (or life force) leaves it, allowing the body to decompose.
  • The body goes back to its earthen origins and the spirit returns to its angelic origin of spiritual energy.
  • This energy is never lost and exists without the secret of its nature being understood by science and modern medicine.


Click here to download this article.
Read More...

Sunday, July 13, 2008

Secrets of Wudu Energy of the Hands

Shaykh Hisham Al-Kabbani

And what benefits us, Prophet was the first to explain it. Wa ma arsalnaaka illa rahmatan lil `alameen. Whatever benefits us he was responsible to deliver else he will be asked why he hided it. Allah swt trusted the Prophet with whatever he created and whatever he created it release to the Prophet s message. So thru his message he was able to reach every person in his time and after his time. And he was the first one who taught Sahaba the use of energy and energy power. Not only energy, but also what is available of different powers around us in this world.

There are many ways that the Prophet has shown us to heal, one of which is described in the hadith of the blind man who asked the Prophet to heal his sight.
The Prophet taught him the dua to recite but he didn t say to him go and read the dua.
He said to him the first step is to go to the ablution area and make ablution. It means ablution is the opening for every sickness to be cured. If you don t have ablution, your effect of curing that disease will be minimal.
Wherever you are reaching, high levels of struggling against the ego and preventing the desires of the ego, using that power when you contradict the ego, building the power more and more, when the negative energy goes away from you, the positive increases.


But with ablution that will double, no that will be thousands and thousand times more powerful that what it used to be.So he said, go and make ablution.

So the first level: when you want to make ablution what do you do?
[intention] other than niyyat. What is first action in wudu [washing hands& up to wrist].
You wash the hands and in between the hands [fingers]. So when you are washing the hands, it means the first movement you are doing is using the hands.

So the first level of energy is in the hands. That is why you see those who are attempting to learn from Islamic ways and adopt in their ways, especially the people of India and china, those who believe in bhuddism, first they do as using hand as a method to release energy from their body. Because they try to use their body, they collect energy thru their body, like a dish, a parabola. What to y-ou call it. Dish?


They collects these energies and release thru their hands. The body acts as a collector of energy. Thru their different movements of very stressful different exercises that they do thru their body, they begin to acquire that kind of energy and concentrate that energy and release it out thru hands on sick people and it has effect, everything that they use to heal has an effect sing energy.

The best example of that is laser light, they use to heal sickness in the eyes and even to cure blindness. Laser surgery. They don t use equipment anymore, only laser.
So the blind man, when he asked the Prophet, the Prophet gave him a hint that thru the release of energy, that blindness will go. 1400 years ago the Prophet healed the blindness thru energy. Make ablution, clean yourself.
That is why he said, the weapon that protects you from the enemy is ablution.

It can release energy and burn it thru releasing thru the hand. The blind man learned that and used it and we will say later how he used it.


We will concentrate on the action of ablution in this session.

• He went thru many different actions and was cured instantly of blindness.
• When you take ablution you wash your hands and then rub them, you turn the right over the left and the left over the right.
• And after you turn them, first right over left, then left over the right.
• You cannot begin with left over right.
• You must begin with right over left.
• Then you clean between the fingers and intersect the fingers with the fingers, coming like this, the right thumb on the left and the left thumb on the right.
• They use this in the bhuddist healing without knowing the Islamic secret. They used to release this energy to the sick areas.
• First you are using 10 fingers. 10. And 10 is the power of computer, energy, zero and 1. It is 10, one and zero. That energy that Allah taught programmers is coming from hands.
• So they are channeling it in computers now, and you are seeing all the miraculous power that the computer can do.

So if the computer can do that, it represents 1 and 0, have that great power, they channeled into the computer to do magnificent work. They channel that energy to heal. They use it without knowing why. They don t know the Islamic aspect.

The Islamic aspect is that the one and zero, and that I why you see if you open your hands and draw a line [connecting the fingertips] you form a circle.

It is 20 cm. around.

• So the hand represents the body, as you open the body it is a circle, the whole body is in the hand.
• Just as they teach in reflexology. Thru different points you can heal.
• The higher level thru reflexology is not to touch.
• The hand acts as a receiver of positive energy, when you extend your hands, one of the courses they give in Islamic healing, later it will be advance, when you open your hands and make I like a satellite dish and not thinking, not imagining, but looking that your body is a complete circle and all this energy that is coming from the cosmos is coming on you and you are taking it in and pulling it thru your body and concentrating it thru the heart.
• Thru meditation for 15 minutes. That is a later technique, not for now.
That is how you get in the symbolic that the whole body is a circle and that the hand is a circle.

When the body acquires the energy then the body acquires the energy. Receive energy from left hand and right hand and channeling them thru the body.

• So when you begin with the hands, rubbing them, when washing them and rubbing them to activate them, that is sign of 1 and zero, and you being to activate the process of what codes Allah has given us thru the hands, you being to activate them.

• That is why we begin to rub right over left and left over right. If you stand in a mirror you see the left is right and the right is left.

• If you stand with your arms spread, you see the opposite. If you are looking from the other side, the left becomes right and right becomes left. That is because in reality we are an image of the reality. In heaven the left is the right and the right is the left.

• That means the right must submit to the left, because in the `alam al-arwaah, the right is left and the left is right. So here is the opposite.


That is why the right in dunya, the left is right in akhira. The left has to submit to the right.

[if you are in heaven looking down&]
where we arrived submission.

The left has to submit to the right and the right has to submit to the left. But in reality the left is the right and the right is the left.

Now everything goes here in dunya when we make tawaaf, we do the anti-clockwise, not clockwise. That will explain to us why we do anti-clockwise, which is the image of the clockwise in akhira. It is like the mirror. Here in dunya it is anti-clockwise, but in akhira it is left to right clockwise.

• To activate that power, Allah is telling us that I am activating your powers from the 99 Beautiful Names and Attributes that I have stamped in your hands.
• Rubbing you use to produce fire two sticks. Rubbing produces energy.
• So rubbing the hands produces energy.
• The water prevents the energy from going out, it freezes it. That is why the Silah al-mumin al-wudu. [the weapon of the believer is ablution]
• As soon as you rub, that creates energy and by rubbing under water that keeps the energy in the body to be released later.
• When we rub our hands we are preparing energy to keep it and to save for use against the enemy.

But when we want to heal we don t use water.
• We rub with no water, we want to release it out.
• When using water we are collecting and saving, collecting and save. When we want to release it we open the hand to release it out.
• So how to activate that code,
• if you look at your right hand on it is the number 18 and on the
• left is 81. so 18 and 81 is 99 names of Allah. [Arabic numbers]

1. So both of them consist of one and eight. And one and eight together and eight and one together make 99. add

2. 99 together -> 18. add 1 and 8 together you get 9. add 8 and 1 together > 9. add together 99. it means all end up in 9.
3. That explains he meaning of the nine points of the self, which are the nine awliya responsible for the self. They use these 9 points in the Enneagram.

• This is the teaching that they brought from Central Asia, from Naqshbandi people, which I explained one time. They use this linear, but in fact it is a circle.
• If you talk to I taught her how to use that. They have nine bullet points that consist of the whole system, the whole body.
• When you rub the fingers you are activating the 99 beautiful names of Allah. By activating them you are activating the 9 points that are on your body.
• And when you activate them, as if the receiver is now on, energy is going in, it begins to work to be able to receive, digitize it and release it out as a picture and as a sound, as we are seeing today.
• Similarly, the hands that are circles, that is why when we rub them and open them, they begin to act as circles over each other, taking all whatever energy coming they are managing .
• That is why silat also they use the hands, and all that they teach of martial arts. But they don t know why it is energy, it is because of the 99 names and attributes. So they can protect themselves thru the names. They don t know. But when Allah gives he gives.
• They are using and he lets them use it and they know there is a power there but don t know why.
• They make quick moves and use that to defend themselves and protect others and to defeat the enemy.

Sayyidina `Ali, when Prophet (s) healed his eye, he opened for him that reality. And that is why thru that energy he has in his hands, he was able to carry the world [up] to his knees because that energy was carrying the world to his knees.

• So when you are activating the 8 and 1 and 1 and 8 which are the 99 names, in numerology 9 is equal to zero.

• 9 all of them end up in 9 if you add them. 9 in numerological terms equals zero, you don t add this number.

• This number doesn t exist anymore. It means submission, complete submission, when you activate that energy you are under that energy s submission, submitting to that heavenly energy that is coming.

• You are no longer seeing yourself acting but that energy is acting, you become zero. Like going in a plane or train or car. The car submits to the persons driving it. Similarly the train submits to the one driving it

• You submit to the energy coming and you release it out. Your body becomes like a receiver and a reflector. You have these TV receivers they only act as receiver that reflect the image. It is not them doing the job, it is the heavenly energy doing the job.

• That shows us how far we can go with these numbers when we activate them together the 18 and the 81. and why the significance of the

• 18 and why the significance of the 81. that is we leave to another session.

• Why is it 18 and why is it 81? There is a significance there, and I don t know even, what will come. That is an introduction to these different techniques that they are trying to adopt without knowing its background. And how they can effect more thru their healing.

• So after rubbing the hands and expediting the release of energy still end up on 19.

• what I mean by 19, here is 18 and here is 81. Add them and you get 99. Ad the 9 and 9 you get 18. Add the 1 and 8 you get 9. So you activated the 9.

• When you rub and activate the nine, now you pass the water, if you check, those who know how to make wudu, not everyone knows to intersect the fingers. Then you are activating the 10. The 10 and the nine, comes to 19.

• And 19 is the number in the Holy Qur an, that recently they found that every ayat in the Holy Qur an is on 19. And that 19, wa yahmilu arsh arrahmani yawmadhin thamaaniyya. and eight will, that Day, bear the Throne of thy Lord above them.[69:17] And those holding hellfire are 19.


Hell is energy, so that is the power of energy.

• You are activating the negative energy to heal the negative energy.
• You need poison to heal poison that is why they give antibiotics.
• That 19 is the number of angels responsible for hellfire. So you use that energy that comes from them, negative energy.
• By negative if you multiply you get positive. You heal sickness by fire that comes from hellfire.
• That energy when it comes out completely breaks down the poison that is in the system. That is how you activate the 19 together.

The eight, which relates to the 8 here, the 1 and 8 and the 8 and the 1.

• When Allah s throne comes on judgment day. 8 angels are carrying it.
• So what are they carrying they are carrying The 1.
• The 8 is carrying the 1. Allah is showing us that in our hands. You are activating also the good energy. After releasing the good energy.
• After you destroy the negative energy with negative energy you want to dress them with the 8 and the 1 with the good energy, the heavenly energy.
• That paradise energy and dressing them with it. And that is why they feel now strong and they feel they are cured.
• When you being activating by rubbing the hands you are activating the number nine, that is complete submission.
• Now you are letting your body submit to the cosmos energy that is coming. And that energy represents fiery energy.
• When you activate with the 10 you are activating the energy.

That negative energy is not bad, it is the power of the negative one,

• you defeat enemy by enemy. The energy from sun is fire energy but at same time it is healing, useful energy. You use negative to heal negative to destroy it completely.
• You leave them with nothing, then activate the 8 and the 1.

Insh Allah more on Healing Coming Soon.

Indonesian Versian Click here.
Read More...

The Naqshbandi Way of Dhikr

What are the difference between the Naqshbandi and the other sufi ways?

It is axiomatic that all Sufi paths lead to the Divine Presence. The Prophet (s) said, "The ways to God are as numerous as the breaths of human beings." The differences lie mostly in the realm of style and taste, and reflect the need to accomodate the variety of types among the aspirants. Differences also stem from the unique individualities of the great luminaries who imprinted each of the Tariqats -- May Allah be pleased with all of them!

There are also some differences of approach. Most Sufi paths offer aspirants a gradual unveiling of the heart's eye, accomplished through the practice of Dhikr, the remembrance of Allah. This spiritual exercise may contain repetition of various of Allah's Holy Names. Some dhikrs involve practices designed to break the spell of mundane consciousness and propel the practicioner into a state of altered awareness. Such practices may include repetition of many thousands of holy phrases, sometimes connected with breathing exercises and often with physical movements. Without a doubt, through the steadfast and dedicated practice of these methods, the aspirant may experience spiritual states and attain stations unimaginable in a normal state of consciousness. The aspirant may feel himself to be flying towards the heavenly goals, beholding the wonders of the mysterious and hidden aspects of creation.

If your eyes have been thus opened, and if you are greatly enamored of the wide vistas you have beheld, then be warned. Should you embark upon the Naqshbandi path, your colorful plumage will be clipped and replaced with the humble cloak of obscurity. For the main difference between the Naqshbandi Way and others is that while they are giving, we are taking away. Everything must go, even your separate existence. First you will be without anything, then you will be nothing. Only those who are prepared to take such a step can be real Naqshbandi murids. As long as a drop is falling from the heavens, it may be called a drop. When it falls into the ocean, it is no longer a drop, it is the ocean.

If anyone is interested in spiritual stations and powers, he may attain them through following any of the forty Sufi paths, as these ways are quite efficacious. Through the recitation of the most beautiful names of Allah everyone receives bountifully in accordance with his intention. In the end, however, the sincere seeker will be struck with remorse if he becomes fixated at the stage of stations and states. One day he will perceive how he has fallen victim to distraction and say: "Oh my Lord, I have been wasting myself and my efforts on something other than you."

Should a seeker's life end while he is in those states, he will regret that they distracted him from seeking the Divine Countenance of His Lord. Therefore, GrandShaykhs have been ordered to strip their followers of their spiritual adornments, so that they may be presented to their Lord in perfect lowliness: "This is your servant, oh our Lord; accept him. He is lost to himself and exists only for You." This is their top priority, and helping their followers attain such a reality is their duty.

It is understood by all orders that the strange and enchanting experiences are the scenery of the journey, not the goal. The goal is to reach his Divine Presence by the attraction of the Beloved Himself. The Holy Prophet Muhammad (s) is the Guide and Example. On His miraculous Night Journey, in which He was conducted by the Angel Gabriel (s) first from Makkah to Jerusalem and then up to the Seven Heavens and into the Divine Presence, he passed trough the whole universe. Allah Almighty informs us in the Holy Qur'an that the Prophet's vision "neither swerved nor wavered" [53:2]. In other words, he looked and beheld but never let those sights distract him from ascending towards his most Exalted Destination. The Holy Prophet was able to behold those sights without being distracted because His Heart was only for His Lord. He was the Beloved of Allah. As for ourselves, we are vulnerable and weak-willed. Those experiences and attainments may accord with our ego's desires, whereas annihilation is never an attractive proposition for the ego.

Therefore, in order to provide maximum protection, the Naqshbandi Masters take a different approach to the unveiling of the heart's eye. There are 70,000 veils between us and the Station of the Prophet (s). A Naqshbandi Master rends these veils in descending order, starting with those closest to the Divine Presence and then successively downwards towards the level of the murid. This process continues throughout the training of the murid, until there is but one veil, the Veil of Humanity ( ijab al-bashariyya), restraining the murid's vision from contemplation of the Divine Reality. In order to protect the murid from attraction to something other than his Lord, however, the GrandShaykh does not rend that last veil until the murid reaches the highest state of perfection, or until his final seven breaths on his deathbed.

If the veils are removed from the bottom up by means of mystical practices, the murid beholds a succession of new panoramas. That very vision may keep him from progressing. Those who attain such stations during this life may discover that they have become powerful and famous among people. This is a danger. Power and recognition are conditions conducive to worldliness. The ego will never neglect such an opportunity to demand its share of the excitement and admiration, and by so doing taint the whole process of spiritual endeavor.

The Sufi aspirant must seek his Lord, not fame. Look at history's most reknowned Holy Woman, the Virgin Mary, who once prayed (Surat Maryam, 23): "Would that I had been a thing forgotten and out of sight!" She has taught all mankind to seek only obscurity in the sight of the world, and not to look for recognition. The striving for power and fame is a heavy burden. The Sufi seeks rather to be forgotten in the Ocean of Unity of Allah Almighty.

The Naqshbandi Sufi Shaykhs say that whoever works according to the following series of recommendations, and acts on it, will attain the exalted stations, especially the Station of Closeness (Qurb) to Allah, Who is Powerful and Sublime, on the Day of Resurrection. The faithful and diligent application of these practices is certain to temper the influence of the lower elements which exist in every human being: the nafs (ego); dunya (worldliness); hawa (vain desires) and shaytan (the devil). A person who manages to keep these principles of the Naqshbandi Order will achieve the light of his Shaykh, who will lift him to the Presence of the Supreme Teacher, the Prophet (s), who in his turn, will lift him up to the Station of Annihilation in Allah.

Allah Powerful and Sublime taught the Prophet Mu ammad (s) good manners, for which reason the Holy Prophet (s) said, "My Lord taught me good manners and perfected His Teaching." The best of manners is to keep the orders of Allah, and the seeker must follow the example of the Prophet in keeping the obligations of His Lord and in following the spiritual path. He must be persistent in keeping to the adab of the Order, until he attains the knowledge of the shari'ah and tariqat. The beginner must always begin at the beginning. He should recognize the difference between Sharicah and Tariqat. Sharicah is a reality that is obligatory for every believing man and woman. Concretely speaking, the Sharicah consists of practicing that which Allah has ordered and avoiding that which He has forbidden. The believer relies on guides to indicate clearly to him what to discard and what to follow. The Qur'an and Sunnah are the foundation of all guidance. The Madhahib judgments of the four Imams, the writing of the scholars and their living inheritors relay and explain the guidance. Whoever keeps to this guidance will be on the ira al-mustaqam, the straight path.

Tariqat is the firm intention (cazamah) of the sharacah. It does not exist outside of sharacah. It is the resolution to follow the Sunnah of the Prophet (s) as completely as possible in every aspect, both external and internal, exposed and hidden, exoteric and esoteric, physical and spiritual. To follow Tariqat the murid puts his trust in the judgment of the Shaykh for the correct understanding and application of the guidance of the Qur'an and the Sunnah. The murid places his hand in the hand of an authorized, living Shaykh and must procede as indicated by him. He must be ready at all times to receive the orders of his Shaykh, just as the Prophet (s) awaited the coming of Jibril with revelation from Allah, Almighty and Exalted. In the same way he must follow the Shaykh's orders, carrying them out to the letter. He must have the "adab of anticipation," which means that he must constantly await the orders of his guide. He must adopt the attitude of a hunter to its prey, being oblivious to all other directions. His sight, hearing, existence and thoughts should be ready to receive orders, and he should always be ready to carry out some new order. Such a man will be a master of the adab of the Exalted Naqshbandi Order, and this tajalli (manifestation) will become apparent in him.

The murid should keep to his daily dhikr and should obey the order of his Shaykh, without veering to the right or to the left. GrandShaykh Shaykh cAbdullah ad-Daghestani said, "My tongue is the tongue of the secret of the shari'ah and of the secret of the Qur'an." Then he asked a question saying, "Who are the bearers and protectors of the Qur'an?" and answered himself: "The bearers and protectors of Qur'an are the ones who set foot in all the exalted stations and knew them with true understanding. And is it not right, my children, that I should indicate to you that you should follow this path so that you may reach and discover these stations?"

Shaykh cAbdullah ad-Daghestani continued saying, "Whoever receives the keys to the five stations (maqamat): Heart (qalb), Secret (sirr), Secret of the Secret (sirr as-sirr), Hidden (khafa), Most Hidden (akhfa) is the one who takes care to perform the Adab and the Awrad in their correct manner. This enables him to reach the Station of Bayazid al-Bistami (q), in which he said, "I am also the Real (al- aqq)." Anyone who wishes to enter the Station of the Two Attributes of the Real, Almighty and Exalted: the Attribute of Beauty (Jamal) and that of Sublimeness and Glory (Jalal) must follow this Way.
Read More...

Popular Posts

 

Translate

My Calendar