Wednesday, April 9, 2025
Monday, December 2, 2019
Peringatan Maulud Nabi Muhammad bersama Syaikh Mustafa Mas'ud & Sabrang Letto
#semuanyaajib #kampungsholawat
Monday, November 4, 2013
Saturday, November 17, 2012
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharrom 1434 H
Nama bulan-bulan dalam kalender islam
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..." [At Taubah (9): 38]
"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah... " [At Taubah (9): 39]
- Muharram
- Shafar
- Rabi'ul Awal
- Rabi'ul Akhir
- Jumadil Awal
- Jumadil Akhir
- Rajab
- Sya'ban
- Ramadhan
- Syawal
- Dzulqa'idah
- Dzulhijjah
Peristiwa Hijrah sebagai tonggak Kalender Islam
"Ia (kalender islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama."
Saturday, October 27, 2012
Selamat Idul Adha 1433 H
SELAMAT IDUL ADHA AL-MUBARAK
10 DZUL HIJJAH 1433 H
Semoga Allah Ta’ala Mengabulkan Amal Ibadah Kita serta Mendapat Maghfirah, Rahmat & RidhoNya
Monday, November 28, 2011
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1433 H
Nama bulan-bulan dalam kalender islam
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..." [At Taubah (9): 38]
"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah... " [At Taubah (9): 39]
- Muharram
- Shafar
- Rabi'ul Awal
- Rabi'ul Akhir
- Jumadil Awal
- Jumadil Akhir
- Rajab
- Sya'ban
- Ramadhan
- Syawal
- Dzulqa'idah
- Dzulhijjah
Peristiwa Hijrah sebagai tonggak Kalender Islam
"Ia (kalender islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama."
Saturday, November 26, 2011
Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah
Barangsiapa yang membaca doa akhir tahun ini, maka syaitan akan berkata: “Hampalah kami di sepanjang tahun ini”.
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.
Doa Awal Tahun
Barangsiapa yang membaca doa awal tahun ini, insya Allah dirinya akan terpelihara daripada gangguan dan godaan syaitan di sepanjang tahun tersebut.
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.
Monday, November 21, 2011
Sholat Dhuha
Pada kajian hadits Arba’in ke-26 bagian pertama telah dijelaskan bahwa hadits ini juga menjelaskan fadhilah shalat Dhuha. Yang demikian ini karena salah satu redaksinya menyatakan:
”Setiap salah seorang di antara kamu memasuki pagi harinya, pada setiap ruas tulangnya ada peluang sedekah; setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap hamdalah (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, semua itu cukup tergantikan dengan dua raka’at dhuha.” (HR Muslim, hadits no. 720).
Hal di atas menjelaskan betapa Allah swt adalah Dzat Yang Maha Pemurah, betapa tidak;
Kenikmatan Allah kepada manusia sangat banyak dan begitu melimpah, sekiranya manusia diminta menghitungnya, niscaya tidak akan mampu (QS An-Nahl: 18), dan semua nikmat ini menuntut manusia untuk mensyukurinya. Jika menghitung saja tidak mampu, bagaimana menunaikan syukurnya?
Manusia diciptakan memiliki 360 ruas. Bersama 360 ruas ini terdapat berbagai kenikmatan yang juga tidak dapat dihitung. Setiap ruang tulang ini memiliki tugas untuk bersedekah, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakannya dan tugas ini mesti ditunaikan manusia pada setiap harinya. Artinya, paling tidak, setiap hari manusia harus bersedekah sebanyak 360 kali atas nama 360 ruas ini. Hal ini tentunya sangat berat dan sulit. Namun, Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah, melalui Rasulullah saw, menjelaskan bahwa tugas bersedekah sebanyak 360 kali itu cukup tergantikan oleh dua raka’at shalat Dhuha. Subhanallah ar-Rahman ar-Rahim, al-Jawwad al-Karim.
Waktu dan jumlah raka’at
Yang dimaksud shalat Dhuha adalah shalat yang dilakukan pada waktu Dhuha. Waktu Dhuha memanjang semenjak matahari naik kira-kira dalam pandangan mata kita setinggi satu tombak. Atau kira-kita 15 menit setelah terbitnya dan berakhir pada saat mendekati posisi tengah-tengah di atas kepala kita. Atau kira-kira 5 menit sebelum masuk waktu Zhuhur.
Jika seseorang melakukan shalat Dhuha ini, dua raka’at saja, berarti ia telah menzakati tubuhnya. Sebab tersebut dalam hadits, sebagaimana telah dikutip di atas, bahwa dua raka’at ini cukup menggantikan tugas setiap ruas tulang untuk melakukan sedekah harian. Allahumma waffiqna lihadza.
Shalat Dhuha sendiri dapat dilakukan dalam pilihan 2 raka’at, 4 raka’at, 6 raka’at, 8 raka’at dan 12 raka’at. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, dari Abud-Darda’ ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang shalat Dhuha 2 raka’at, maka ia tidak tercatat sebagai orang yang lalai, dan siapa yang shalat Dhuha 4 raka’at, maka ia tercatat sebagai ‘Abid (ahli ibadah), dan siapa yang shalat Dhuha 6 raka’at, cukuplah baginya pada hari itu, dan siapa yang shalat Dhuha 8 raka’at, Allah swt mencatatnya sebagai Qanit (ahli taat), dan siapa yang shalat Dhuha 12 raka’at, Allah swt membangunkan rumah untuknya di surga, dan tidak ada hari, juga tidak ada malam kecuali ada pemberian Allah swt yang diberikannya kepada hamba-Nya sebagai sedekah untuknya, dan tidak ada pemberian Allah yang diberikan kepada seorang hamba-Nya yang lebih afdhal daripada ilham kepadanya untuk mengingat-Nya. (Hadits dha’if, diriwayatkan oleh ath-Thabarani, lihat Dha’if at-Targhib wa at-Tarhib, no. 405).
Hadits dha’if ini disebutkan di sini untuk menjelaskan bahwa jumlah raka’at Dhuha memiliki opsi-opsi jumlah raka’at demikian. Imam Nawawi berkata, “Dalam hadits ini (hadits yang menjelaskan tentang opsi jumlah raka’at shalat Dhuha) terdapat kelemahan, namun jika digabungkan dengan hadits lain, maka ia menjadi kuat dan layak dijadikan argumentasi untuk hal ini.”
Shalat Dhuha adalah shalat Awwabin
Tersebut dalam hadits Rasulullah saw yang lain bahwa shalat Dhuha adalah shalat Awwabin. Artinya, shalat yang merefleksikan sikap orang-orang yang senantiasa merujuk dan kembali kepada Allah swt dalam segala urusannya. “Shalat Awwabin dilakukan saat anak-anak unta mulai merasakan panasnya pasir sehingga mereka bangkit.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim [748])
Dalam hadits yang lain, “Tidak konsisten menjaga kontinuitas shalat Dhuha kecuali ia seorang awwab, dan shalat Dhuha adalah shalat Awwabin.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 703)
Shalat Dhuha ini adalah salah satu dari tiga wasiat Rasulullah kepada Abu Hurairah ra.
Abu hurairah berkata, “Kekasihku (maksudnya, Rasulullah saw) berwasiat kepadaku dengan tiga hal, dan aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku mati; berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dan melakukan shalat witir sebelum tidur.” (Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [1107, 1845], Muslim [1182])
Shalat Dhuha merupakan bagian dari “haji dan umrah” yang sempurna. Bukan haji dan umrah dalam arti pergi ke Mekah, akan tetapi, pahala haji dan umrah. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang shalat Subuh berjama’ah, lalu duduk dzikir kepada Allah swt sehingga matahari terbit,kemudian shalat dua raka’at, maka untuknya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, lihat Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 586)
Rasulullah melakukan shalat Dhuha
Ummul Mukminin Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw melakukan shalat Dhuha 4 raka’at dan menambahnya sesuai dengan kehendak Allah swt.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim [1176])
Ummu Hani’ ra bercerita bahwa Rasulullah saw memasuki rumahnya pada hari fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), lalu mandi dan shalat 8 raka’at. (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari [1105])
Dan ia menjelaskan lebih lanjut bahwa shalat Dhuha yang dilakukan Rasulullah saw termasuk shalat yang cepat. Maksudnya surat yang dibaca oleh beliau saw adalah surat-surat pendek, ruku’ sujudnya juga pendek-pendek. Hanya saja, ruku’ dan sujudnya dilakukan secara sempurna. (Shahih Bukhari, no. 1105)
Shalat Dhuhanya Asma’ binti Abi Bakar
Imam Nawawi menuturkan kisah Asma’ binti Abi Bakar ra, bahwasanya pada suatu hari Ubadah bin Hamzah memasuki rumahnya. Ia mendapati Asma’ sedang membaca QS At-Thur: 27-28. Selesai membaca ayat ini Asma’ ra berhenti untuk melakukan perenungan dan penghayatan terhadap kandungannya, lalu berdo’a. Membacanya lagi, merenung lagi, berdo’a lagi, membaca lagi, merenung lagi, berdo’a lagi, begitu seterusnya. Ternyata hal ini berlangsung sangat lama, sehingga Ubadah keluar dari rumah dan pergi ke pasar untuk menyelesaikan urusannya di pasar. Lalu ia balik lagi ke rumah Asma’. Ternyata ia masih dalam keadaan seperti saat ditinggalkan. (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an pembahasan tentang mengulang-ulang bacaan ayat dalam rangka melakukan tadabbur). Besar kemungkinan, hal ini dilakukan saat Asma’ ra melakukan shalat Dhuha, sebab Ubadah yang datang kepadanya, lalu pergi ke pasar dan balik lagi.
Riwayat lain mengatakan bahwa kisah ini terkait dengan Ummul Mukminin Aisyah binti Abi Bakar ra, dan bahwasanya do’a yang dibacanya berbunyi: Allahumma munna ‘alaina, waqina adzabas-samum, innaka anta al-Barru ar-Rahimu. Artinya, ya Allah, berikanlah suatu pemberian kenikmatan kepada kami, lindungi kami dari azab neraka, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi Kebajikan dan Dzat Yang Maha Penyayang. (lihat Tafsir Ibn Abi Hatim, saat menafsirkan ayat 27-28 surat Ath-Thur)
Doa sesudah sholat dhuha
ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.
Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.
Semoga Allah swt memberikan taufiq, hidayah dan kekuatan kepada kita agar bisa konsisten melakukan shalat Dhuha. Amiin.
Sumber : ummi-online.com, laillahaillallah.com
Saturday, July 30, 2011
Marhaban Ya Romadhon

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah : 183)
Doa sesudah berbuka puasa :
Artinya: “Ya Allah karena Engkau saya berpuasa dan kepada-Mu saya beriman dan dengan rezeki-Mu saya berbuka telah hilang dahaga serta basah dan dingin dan segala urat. Ya Allah ampunilah saya dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu.”
Mohon maaf lahir dan bathin.
Sunday, December 20, 2009
Selamat Tahun Baru 1431 H
Sunday, September 27, 2009
Selamat Hari Raya Idul Fitri1430 H
1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Monday, August 24, 2009
Marhaban Ya Romadhon
Thursday, April 16, 2009
HATI YANG ARIF

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali
رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ اَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ اِلَى مَوْلَاه لِإِكْتِفَائِهِ بِمَشِيْئَتِهِ فَكَيْفَ لَا يَسْتَحْيِى أَن يَرْفَعَ اِلَى خَلِيْقَتِهِ
Terkadang orang yang ma’rifat malu mengangkat hajad kepada Tuhannya, hal itu karena mereka merasa cukup terhadap kehendak-Nya. Maka bagaimana mereka tidak malu mengangkat hajad kepada makhluk-Nya (Hikam Ibnu Atho’illah Assakandari).
Orang yang ma’rifat kepada Allah adalah orang yang kenal kepadaNya. Mereka adalah orang yang kenal sunnatullah. Kenal dengan sistem dan tatacara kehidupan yang dibangun oleh Allah di alam semesta ini. Dengan pengenalan itu menjadikan hidup mereka terjaga dari perbuatan salah, baik dalam menyikapi, menyangka, mendiagnosa maupun menjalani kehidupan di dunia. Termasuk dalam pengenalan itu, mereka juga mengenal bahwa kehidupan akhirat lebih baik baginya daripada kehidupan dunia. Itu sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan”(QSAdh-Dhuhaa(93)4). Dengan pengenalan yang demikian itu, maka tidak akan pernah terjadi kehidupan akhirat ditukar dengan kehidupan dunia.
Mereka mampu berbuat sabar dalam susah dan musibah, karena mereka yakin bahwa dengan itu akan mendapatkan senang (surga). Mereka mampu mengendalikan diri dalam senang dan anugerah. Mereka tidak menjadi sombong dengan kelebihan dunia, karena mereka yakin dibalik senang dan anugerah itu sesungguhnya susah dan musibah sudah mempersiapkan diri menunggu giliran. Itu diyakini karena putaran susah dan senang itu adalah bagian sunnah yang sudah ditetapkan Allah dalam kehidupan. Bagi mereka susah berarti menanam sedangkan senang berarti menuai. Apabila hidup hanya senang saja tanpa susah, berarti mereka hanya menuai saja dan tidak menanam lagi, selanjutnya selamanya mereka akan susah (neraka).
Oleh karena itu, terkadang hati mereka lebih merasa damai di dalam susah, bahkan mampu dijalani seumur hidup, karena dengan itu berarti di akhirat nanti tinggal senangnya saja. Dalam kondisi seperti itu dia merasa malu melahirkan hajatnya kepada Allah. Dia merasa cukup dengan apa-apa yang sudah ditentukan Allah bagi dirinya. Kalau sudah demikian, bagaimana dia tidak malu mengharapkan pemberian dari makhluk…?
Orang yang kenal Allah itu mampu mencukupkan diri dengan apa-apa yang sudah ditetapkan Allah bagi dirinya. Dalam keadaan yang bagaimanapun, meski sedang menghadapi kematian misalnya, ketika saat itu dia ingat Allah hatinya menjadi senang. Dia sadar bahwa kehidupan di dunia ini tempatnya amal, saatnya berjuang dan mengabdi, sedangkan di akhirat nanti akan dipertemukan dengan apa-apa yang sudah diusahakan itu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan di dunia itu hanyalah sarana untuk amal, sarana untuk mengabdi dengan pengabdian yang seutuhnya. Dengan sarana amal itu bagaimana dia mampu mengabdi untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.
Orang yang kenal Allah adalah orang yang kenal bahwa Allah adalah Tuhannya, tiada Tuhan selainNya, Allah yang menciptakannya. Dirinya hanyalah sekedar hambaNya. Sebagai seorang hamba yang diciptakan, dia kenal bahwa dirinya hanya mempunyai kuwajiban, yakni mengabdi, bahkan hanya untuk itu dia diciptakan. Dia kenal, bahwa sebelum dihidupkan di dunia dia telah menyepakati komitmen(kesepakatan) bahwa Allah adalah pemeliharanya, Allah adalah pelatihnya, Allah adalah yang mentarbiyah dirinya, maka dengan sekehendakNya Allah bisa berbuat apa saja kepada dirinya.
Orang yang kenal Allah adalah orang yang kenal bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih. KebaikanNya sudah terdahulu, mendahului setiap kebaikan yang ada. Kebaikan itu bukan sebab kebaikan hambaNya dan bahkan sebelum hambaNya mampu berbuat apa-apa, maka orang yang kenal Allah itu kenal akan kenikmatan-kenikmatan yang telah dianugerah¬kan Allah kepada dirinya. Sebagai seorang hamba yang diciptakan, orang yang kenal Allah itu mengenal akan kelemahan dan keterbatasan dirinya sendiri, termasuk juga kenal dosa-dosanya. Oleh karena itu, orang yang kenal Allah itu adalah orang yang selalu bertaubat kepadaNya. Itu dilakukan, karena dia juga kenal bahwa tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali hanya Allah.
Ketika seorang hamba yang dho’if itu kenal bahwa Ma’budnya adalah Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, Tuhannya mampu berbuat apa saja hanya dengan menurunkan titah(Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia(QS.Yaasin(36)82), maka hatinya menjadi damai. Dia tidak risau lagi untuk menghadapi tantangan hidup yang menghadang. Dia tidak kuatir jatuh miskin dan tidak bisa makan. Tantangan hidup itu hanya dihadapi dengan pengabdian. Dia cukup mengabdi kepadaNya, meski pengabdian itu harus diaktualisasikan dengan pengabdian kepada sesama manusia. Hanya itu kuwajiban yang harus ditunaikan, asal dia sudah melaksanakan pengabdian dengan semampunya, maka dia yakin segala kebutuhan hidupnya akan dicukupi.
Sementara itu ada orang mengatakan, dia butuh sarana untuk sebuah pengabdian. Sarana ibadah itu dicari dan diusahakan dengan mati-matian. Siang dengan bekerja sepanjang hari, malam dengan beribadah sepanjang malam, namun tanpa sadar bahwa sejatinya yang diutamakan dalam ikhtiar itu adalah pencarian sarana ibadah, bukan bagaimana dengan sarana ibadah yang diusahakan itu dia dapat beribadah kepada Allah dengan sempurna.
Untuk memenuhi keinginannya itu, terkadang orang tersebut harus bersusah-susah datang ke majlis. Mengikuti seorang tokoh mujahadah yang terkenal do’anya selalu mendapat ijabah sehingga tokoh itu diikuti banyak orang. Bahkan mengikuti komunitas thoriqoh yang dipimpin seorang guru mursyid yang mulia. Di dalam majlis dzikir itu dia bersungguh-sungguh berdzikir kepada Allah. Tujuannya supaya dia mendapatkan rahmat dariNya. Mendapatkan peningkatan kehidupan ekonomi sehingga hidupnya menjadi mulia dan terhormat di tengah masyarakat. Hutang-hutang yang macet sekian lama supaya segera mendapat¬kan jalan keluar untuk membayar.
Apabila tujuan dzikir dan mujahadah itu hanya untuk meningkatkan tarap hidup di dunia saja, meski bagian dunia yang diminta itu nantinya akan dijadikan sarana ibadah, orang yang demikian itu berarti bukan ma’rifat kepada Allah meski dia termasuk orang yang ma’rifat kepada rahmatNya. Dia mencari rahmat Allah tapi dengan melupakan hak Allah. Akibatnya, apabila rahmat itu sudah didapat, maka dzikir dan Allah akan begitu saja segera ditinggalkan. Itu bisa terjadi, karena dzikir dan Allah itu sejatinya hanya dijadikan alat untuk memenuhi kehendak nafsunya sendiri.
Yang lebih parah dari itu, apabila ternyata yang dituju dalam berdzikir itu tidak juga kunjung tercapai. Peningkatan hidup yang diharapkan tidak segera terwujud. Hutang yang bertumpuk-tumpuk tidak juga segera terbayar. Ketika hatinya sudah dihinggapi rasa putus asa, karena dzikir dan mujahadah yang selama ini ditekuni dianggapnya tidak juga menghasilkan buah, majlis dzikir itu dianggap tidak mampu memenuhi harapan hatinya, maka majlis dzikir dan dzikirnya dicemooh dan dicela. Dia segera meninggalkan komunitas dzikir yang lama dan mencari komunitas dzikir baru yang lebih ampuh lagi. Namun ironisnya di komunitas yang baru itu dia menjelek-jelekkan majlis dzikir yang lama. Itu hanyalah sebagian dari fenomena yang ada, romantika kehidupan manusia memang selalu unik dan mempesona.
Wednesday, April 8, 2009
UNGKAPAN ADALAH MAKANAN HATI

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali
اَلْعِبَارَاتُ قُوْتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِيْنَ وَلَيْسَ لَكَ اِلاَّ مَا اَنْتَ لَهُ آكِلٌ . رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ الْمَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ اِلَيْهِ وَذَلِكَ مُلْتَبِسٌ اِلاَّ عَلَى صَاحِبِ بَصِيْرَةٍ . لاَ يَنْبَغِى لِلسَّالِكِ اَنْ يُعْبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِى قَلْبِهِ وَيَمْنَعُ وُجُوْدَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ .
Ungkapan adalah makanan hati bagi para pendengarnya, maka engkau tidak akan mampu melakukannya kecuali terlebih dahulu telah makan. Terkadang orang mengungkapkan dari kedudukan orang yang berharap mendapatkan kemuliaan, terkadang diungkapkan oleh orang yang telah sampai di dalam kemuliaan, keduanya samar kecuali bagi orang yang mempunyai mata hati. Tidak patut bagi para salik mengungkapkan warid-warid yang datang kepada dirinya, hal itu meyebabkan berkurangnya amalan hati dan menghalangi kesungguhan kepada Tuhannya.(Hikam Ibnu Atho'illah)
Orang yang belum pernah merasakan penderitaan sakit gigi misalnya, bagaimana mungkin dia mampu menggambarkan rasanya sakit gigi kepada orang lain. Kalau toh dia mengenal sakit gigi, pengenalan itu tentunya hanya sebatas teori yang didapatkan dari membaca dan mendengar. Orang yang pernah merasakan sakit gigi, bila kebetulan dia juga orang yang ahli mengobati sakit gigi, tentunya lebih pandai mengobati sakit gigi daripada orang yang belum pernah sakit gigi.
Demikian pula orang yang mampu mengungkapkan keadaan yang batin, tentunya karena memiliki mata batin. Orang yang memiliki mata batin yang cemerlang, sesungguhnya karena telah mengalami kehidupan batin yang sempurna, itulah buah ibadah. Hasil dari melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Karena dengan ibadah, berarti orang tersebut telah terlatih menggunakan indera batin untuk berhadapan dengan alam batin. Itulah makanan spiritual yang hanya bisa didapat dengan dzikir secara istiqomah.
Ketika indera yang batin itu mampu terlatih dengan baik sehingga sorotnya menjadi tajam dan tembus pandang, disaat indera batin itu melihat gambaran yang lahir, maka “keadaan batin” yang ada dibalik “keadaan lahir” itu menjadi tampak terang. Ini adalah hal yang biasa. Artinya semua orang yang sehat lahir batin berpotensi mencapai kemampuan itu. Asal mereka mau melatih indera batinnya dengan benar, tentunya dengan bimbingan guru ahlinya.
Ketika orang yang matahatinya cemerlang itu melihat sesuatu yang batin. Disaat urusan batin yang menyangkut rahasia orang lain itu harus dilahirkan dihadapan orang banyak, maka secara spontan ungkapannya akan keluar melalui ucapan. Oleh karena itu, setiap ungkapan yang diucapkan selalu dengan menggunakan bahasa lambang yang terkadang masih membutuhkan penafsiran. Adapun bagi para murid yang hatinya sedang membutuhkan obat dari guru mursyidnya, mereka tidak harus susah-susah menafsirkan bahasa lambang tersebut, karena ungkapan itu adalah obat yang disuapkan guru mursyidnya untuk mengobati penyakit hati yang sedang dialami.
Oleh karena kemampuan mengungkapkan keadaan batin seseorang itu adalah hasil ibadah dan pengabdian yang panjang, maka para ahli itu selalu mendapatkan kemuliaan di tengah masyarakat. Itu disebabkan karena dengan kemampuannya sebagai dokter ruhani, dia selalu didatangi orang lain untuk dimintai pertolongan, baik untuk mencarikan jalan keluar dari masalah hidup yang sedang mereka hadapi maupun hanya sekedar berkonsultasi. Dengan yang demikian itu, maka keberadaan ahli batin tersebut dibutuhkan oleh orang yang ada disekitarnya.
Ungkapan tersebut adakalanya diungkapkan oleh orang yang sedang mencari kemuliaan dan adakalanya terungkap dari kedudukan yang mulia. Hakekat dua keadaan itu samar dan tersembunyi, kecuali bagi orang yang matahatinya telah menjadi cemerlang. Oleh karena dua hal itu merupakan keadaan yang batin, maka tanpa indera batin orang sulit membedakannya.
Orang-orang yang mampu mengungkapkan keadaan batin orang lain, karena mereka pernah mengalami perjalanan ruhani sebagaimana perjalanan ruhani orang batinnya diungkap itu. Bagian dari pengalaman ruhaniyah itu adalah warid-warid yang didatangkan sebagai buah dari wirid-wirid yang mereka dijalani. Setiap orang yang melaksanakan perjalanan ruhaniyah, apabila jalan yang ditempuh berada di jalan benar, jalan Allah, maka mereka akan mendapatkan warid-warid yang datangnya dari urusan ketuhanan. Dengan warid-warid tersebut, seseorang akan mendapatkan kelebihan hidup.
Namun demikian, bagi para salik tidak sepantasnya mengungkapkan warid-warid yang didatangkan kepada dirinya. Jika hal itu dilakukan akan menjadi penyebab keruhnya matahati yang mulai cemerlang sehingga hati itu akan kembali terhijab. Apabila hati mereka kembali terhijab, maka amaliyah yang dilakukan yang semula mampu menghidupkan ruhani akan menjadi amaliyah lahir yang hanya akan mendapatkan pahala saja, itupun manakala amaliyah tersebut dikerjakan dengan hati ihlas.
Adapun seorang guru mursyid thoriqoh yang hatinya telah terjaga dari sifat-sifat basyariyah yang tidak terpuji, mereka terkadang mengungkapkan warid-warid yang didatangkan kepada dirinya. Hal itu dilakukan, disamping bertujuan untuk memberikan bimbingan kepada para murid, juga melaksakanan perintah Allah untuk mencerikan kenikmatan yang didatangkan kepada dirinya sebagai perwujudan rasa syukur atas kenikmatan tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dengan firmanNya yang artinya: “Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya”(Adh Dhuhaa(93)11).
Dikisahkan dalam buku manaqibnya “Lujjaini Dani” yang ditulis oleh Asy-Syekh Ja’far bin hasan bin Abdul Karim al-Barjanji ra. Asy-Syekh Abdul Qodir Jailani ra. pernah mengungkapkan kewaliannya di depan orang banyak. Beliau berkata: “Syekh Husain Al-Hallaj pernah terpeleset satu kali dalam menjalankan kewaliannya, pada waktu itu tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Seandainya saya hidup sezaman dengannya, niscaya saya akan menolongnya. Karena saya harus menolong orang yang terpeleset dalam menjalankan kewaliannya dari sahabat-sahabatku, murid-muridku, dan orang-orang yang mencintaiku sampai hari kiamat, baik mereka terpeleset waktu masih hidup maupun setelah mati. Disebabkan karena kudaku sudah terpasang pelananya, tombakku sudah tertancapkan, pedangku sudah terhunus dan anak panahku sudah terpasang busurnya untuk menjaga muridku yang sedang lupa”.
Alam kewalian (warid-warid khusus yang diturunkan kepada orang-orang khusus), meskipun itu adalah anugerah utama yang hanya diturunkan Allah kepada para waliNya, namun demikian warid seperti itu terkadang malah membawa dampak negatif kepada pemiliknya. Seperti orang mabuk, ketika dengan fasilitas yang berlebihan, apa saja yang dikendaki seketika bisa terwujud misalnya, kelebihan seperti itu bisa menjebak pemiliknya merasa menjadi Tuhan. Mereka mengatakan: “Ana Al-Haq” (Aku adalah Tuhan). Padahal mereka itu hanyalah seorang hamba biasa sebagaimana hamba yang lain. Itulah yang dimaksud terpeleset di dalam alam kewalian. Seharusnya siapapun tetap merasa sebagai seorang hamba meski dia telah mendapatkan kelebihan yang luar biasa. Dalam kondisi terpeleset itu, harus ada seorang waliyullah yang mampu menolongnya. Orang yang mampu mengembalikan rasa dalam hati yang menyesatkan alam sadar itu ke jalur yang benar. Orang yang terpeleset dalam alam kewalian itu seperti orang yang tenggelam di dalam perasaan alam bawah sadar, maka harus ada tangan yang mampu menarik kembali ke alam sadar
TANDA-TANDA MENGIKUTI HAWA NAFSU

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali
مِنْ عَلَامَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ اِلىَ نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ وَالتَّكَاسُلِ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ
Diantara tanda-tanda mengikuti hawa nafsu, giat melaksanakan amaliyah tambahan dan malas melaksanakan amaliyah yang diwajibkan. (Hikam Ibnu Atho’illah Assakandary)
Disaat semangat berbenah diri sedang menghangat, berarti pintu rahmat dan inayah sedang membuka hati. Ibarat kuda berlari, maka amaliah para salik yang semula tersendat menjadi tidak mau berhenti. Bangun malam yang biasanya berat, menjadi ringan sehingga dzikir dan sholat berjalan tanpa hambatan. Seperti ketika bulan Ramadhan datang, meski tanpa dikomando oleh atasan, musollah-musollah menjadi hidup dan masjid-masjid jama’ahnya melober ke jalan. Hal itu bisa terjadi, karena di bulan yang mulia itu Allah sedang mencurahkan rahmatNya di dalam hati yang mendapatkan perhatian.
Bagi seorang salik, meski semangat ibadah sedang tumbuh subur di dalam rongga dada sehingga jalan malam yang semula gelap gulita menjadi terang benderang, namun demikian, mereka tetap harus waspada dan selalu memperhatikan rambu-rambu jalan. Rambu-rambu itu bukan yang terpasang di persimpangan atau pertigaan jalan, tetapi tersembunyi di dalam rongga dada hingga orang lain menjadi samar. Rambu-rambu jalan itu ada diantara nafsu dan hati, sehingga selain orangnya sendiri sulit dapat mengenali.
Seorang salik dituntut tidak harus mampu membangun dan memakmurkan amal ibadah saja, tetapi juga mengenali sesuatu yang mendorong dibaliknya. Apa yang mendasari amaliah yang sedang ditekuni itu, hawa nafsu ataukah hati. Itu harus dilakukan, karena hasil yang dikerjakan akan bergantung dengan yang mendorong dari dalam. Apabila yang mendorong itu hati, berarti perjalanan amal akan sampai kepada tujuan. Namun bila hawa nafsu dan setan, amaliah itu malah akan memasukkan dirinya ke neraka jahannam.
Amal Sunnah dan Amal Wajib
Secara manusiawi setiap manusia enggan diperintah, kecuali terpaksa. Demikian pula orang yang ahli ibadah. Oleh karena itu, terkadang mereka cenderung lebih senang melaksanakan ibadah sunnah daripada yang wajib. Terkadang orang giat bangun malam. Mereka mengerjakan sholat dan dzikir semalam suntut bahkan di tempat sepi seorang diri, tetapi ketika menjelang saat waktu sholat subuh datang, sajadah segera dilipat, bantal dan selimut disekap hingga sholat subuh terlewat.
Padahal dzikir dan sholat malam hukumnya sunnah sedangkan sholat subuh hukumnya wajib. Ibadah sunnah adalah ibadah tambahan. Apabila ibadah wajib ada kekurangan maka yang tambahan dapat menyempurnakan. Meskipun ibadah tambahan dapat mengangkat kemuliaan, menguatkan iman dan menancapkan kecintaan sehingga hamba yang bertakwa mendapatkan kehormatan. Namun, apabila yang wajib ditinggalkan, itu pertanda dzikir dan sholat malam yang dilakukan itu hanya mengikuti dorongan hawa nafsu dan setan. Itulah rambu-rambu jalan, agar perjalanan seorang salik tidak tersesat di tengah jalan.
Apabila perjalanan malam yang mestinya menyampaikan kepada tujuan tetapi malah menyesatkan, maka cahaya yang terang bisa jadi menyilaukan. Akibatnya, batasan jalan menjadi kabur sehingga orang yang terlanjur tersesat, sulit diingatkan. Seperti orang mengatakan: “Bahwa sholat itu untuk dzikir kepada Tuhan”, itu mereka fahami dari sebuah firman: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS.Thohaa(20)14). Ketika mereka merasa dapat mengingat Tuhan, merasa dekat meski sedang tidak mengerjakan sholat, sehingga setiap kemauan serasa dikabulkan, selanjutnya sholatnya ditinggalkan, karena sholat dianggap hanya sebagai kendaraan.
Padahal, meskipun orang telah mendapat karomah besar. Dapat berjalan di udara seperti burung atau menyelam di dasar air seperti ikan. Sholat subuh itu seharusnya tetap dikerjakan. Itu hanya dengan satu alasan, bahwa sholat subuh itu perintah sedangkan karomah adalah pemberian. Bahkan tidak hanya itu, kemuliaan hidup itu diturunkan, karena seorang hamba telah melaksanakan kwajiban.
Terkadang bisa jadi nafsu yang mendorong ibadah haji, maka setiap tahun orang ingin pergi ke tanah suci. Dia ingin menjadi orang suci, namun juga tidak peduli meski uang ongkos haji itu didapat dari hasil korupsi. Itulah godaan setan yang diselipkan dalam hawa nafsu manusiawi. Dengan jebakan seperti itu banyak orang tersesat jalan dan lupa diri. Itu bisa terjadi karena perjalanan ruhani tanpa bimbingan guru sejati, sehingga perjalanan tidak sempat memperhatikan rambu-rambu jalan. Dalam urusan kebajikan, kemauan hawa nafsu dan hati memang sulit dibedakan, namun dengan konsep asy-Syekh Ibnu Atho’illah ra. di atas, maka yang semestinya samar menjadi terang benderang
Thursday, April 2, 2009
Shalat Khusyuk Tak Harus Bayar Mahal

”SYEH Mustofa, saya pernah ngaji di pesantren. Tetapi setiap shalat belum bisa khusyuk, mengapa? Mungkin syeh punya petunjuk dan saran ?”. Pertanyaan itu disampaikan seorang penelepon bernama Bahruddin dalam dialog interaktif dengan Syeh Mustofa Mas'ud Haqqani di Radio Dais (Dakwah Islam), Masjid Agung Jawa Tengah.
Mursyid Thoriqoh Naqsabandy Haqqani Indonesia itu menjawabnya dengan santai. ”Shalat itu disebut khusyuk apabila sudah memindahkan pusat pikiran ke hati by heart. Mana ada shalat khusyuk bisa dibeli jutaan rupiah dengan kursus dan penataran?” katanya.
Dialog di studio Radio Dais, lantai dasar Menara Al-Husna MAJT itu dipandu oleh reporter Karno dan Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Agus Fathuddin Yusuf.
Jamaah thoriqoh Syeh Musthofa tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Eropa Barat, Amerika Utara, Asia Tenggara dan lain-lain. Pimpinan tertinggi thoriqoh ini ada di Syprus yaitu Syeh Nadzim Haqqani, sedang menantunya Syeh Maulana Hisyam di Amerika Serikat.
Syeh Mustofa sendiri tak banyak menjelaskan jati dirinya. Ia hanya mengatakan asli Jombang, Jatim dan pernah kuliah di London. Menurut Prof Dr HM Amin Syukur MA, saat kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syeh Mustofa pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Sambil kuliah di IAIN, ia juga nyambi kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Kebanyakan yang kuliah di fakultas Adab, Bahasa Inggris dan Arabnya jago-jago,” kata Amin Syukur.
Ketika ditanya, di mana menetap bertempat tinggal? Ia mengatakan tidak tentu. Kadang di Jakarta, kadang di Semarang, Sumatera, Kalimantan, dan kadang-kadang keliling dunia. Di Semarang biasanya tempat zawiyah (tempat berkumpulnya murid-murid thoriqoh) di rumah Rosyad Ma'shum Jalan Erlangga Tengah Gang VI nomor 2. ”Kalau kebetulan ke Jawa Tengah, biasanya Syeh singgah di tempat kami. Jadwal acaranya sangat padat,” tutur Hajjah Rosyad.
Shalat Khusyuk
Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram. ”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok.
Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya.
Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.
Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun.(SM)
Wednesday, April 1, 2009
KAROMAH DAN ISTIDROJ
رُبَمَا رُزِقَ الْكَرَامَةَ مَنْ لَمْ تَكْمَلْ لَهُ الإِسْتِقَامَةُ .
Terkadang orang mendapatkan karomah meski mereka belum sempurna melaksanakan istiqomah.(Hikam Ibnu Atho'illah As-Sakandary)
Orang menggali tanah di sawah misalnya, bisa jadi saat itu dia menemukan harta karun. Namun apabila pagi-pagi ada orang sengaja menggali tanah di sawah untuk mencari harta karun, maka barangkali itu merupakan pertanda pemikiran yang bodoh.
Karomah merupakan warid yang didatangkan kepada seorang hamba buah wirid yang dijalani secara istiqomah. Meskipun karomah buah istiqomah, tanpa kesempurnaan istiqomah bisa jadi orang tetap akan mendapatkan karomah. Hal itu disebabkan, karena karomah merupakan semata anugerah, sebagai hak prerogatif Raja Diraja yang Maha Pencipta, bukan sekedar hasil yang bisa diusahakan oleh seorang hamba. Jika datangnya karomah itu ternyata melalui tapak tilas sebuah usaha dan perjalaan hidup yang dilakukan, maka usaha itu sejatinya hanyalah sesuatu yang diciptakan pula, sebagai sebab supaya hasilnya bisa didatangkan sebagai akibat.
Meskipun karomah merpakan buah ibadah, yaitu buah ilmu, amal dan istiqamah, namun demikian derajat karomah lebih rendah dibanding istiqamah. Karena karomah seperti juga istiqamah sejatinya merupakan sarana. Namun bedanya, apabila karomah adalah sarana supaya seorang hamba mampu melayani makhluk dengan baik, maka istiqamah adalah bagaimana seorang hamba dapat mengabdi kepada Allah dengan sempurna. Karomah adalah sarana supaya seorang hamba dapat melaksanakan ibadah secara horizontal sedang istiqomah adalah sarana untuk melaksanakan ibadah secara vertikal.
Ibarat sayap, dengan istiqamah seorang hamba dapat terbang tinggi keharibaan Allah, sedangkan dengan karomah mereka harus turun lagi ke ladang dunia. Oleh karena itu, apapun yang menjadikan seorang hamba sampai kepada Tuhannya, itu adalah yang lebih utama daripada yang menjadikannya sampai kepada makhluk. Bagaimanapun lemahnya istiqamah karena ia mampu menolong seorang hamba dekat dan wushul kepada Allah, maka istiqomah akan menjadi bernilai lebih tinggi daripada karomah, karena karomah justru berpotensi menjauhkan seorang hamba kepada Tuhannya.
Itu bisa terjadi, apabila kedekatan seorang hamba kepada makhluk ternyata mengakibatkan hatinya condong kepada makhluk. Meskipun kecondongan hati tersebut sesungguhnya merupakan bentuk perwujudan dan penerapan cintanya kepada Sang Kholiq, maka sebesar kecondongan itu akan mengurangi kecintaan mereka kepada Sang Kholiq. Sebab, hati manusia hanya satu, apabila di dalamnya telah terisi oleh sesuatu maka yang lainnya pasti akan berlalu.
Datangnya karomah seringkali diawali dengan datangnya kemudahan dari Allah. Dengan kemudahan itu, yang semestinya orang lain tidak dapat melakukan suatu, seperti menolong kesembuhan orang sakit parah misalnya, padahal segala upaya dokter dan rumah sakit sudah tidak mampu menyembuhkannya, orang tersebut dapat melakukannya dengan mudah. Padahal, upayah penyembuah itu tidak mungkin berhasil kecuali dengan mendapatkan kehendak penyembuah dari-Nya.
Apabila kelebihan dan kemampuan seperti itu kemudian diakui sebagai kemampuan pribadi, bukan dengan mendapatkan pertolongan yang didatangkan dari urusan Ilahiyah, itulah pertanda bahwa kelebihan itu bukan karomah tetapi istidroj. Tanpa adanya pemahaman yang dalam akan urusan rahasia ketuhanan, sulit rasanya orang dapat membaca dan mensikapi realita yang didatangkan itu dengan benar. Hal itu disebabkan karena sebagian besar manusia terhijab dengan pengakuan nafsunya sendiri sehingga anugerah yang utama itu diakui sebagai kemampuan pribadi.
Oleh karena sebagian besar manusia kurang mampu mensyukuri anugerah besar tersebut, maka mereka tidak lagi mendapatkan tambahan dari kenikmatan yang utama itu. Terlebih ketika mereka berbuat kufur nikmat, maka sebagai akibatnya, ketika masa tangguhnya telah berakhir, kemampuan itu akan dicabut berangsur-angsur bersamaan dengan kehancuran pemiliknya. Oleh karena itu, dengan segala pelaksanaan ibadah dan perjuangan yang diistiqomahkan, hendaknya seorang hamba tidak berharap mendapatkan karomah. Apabila Allah menghendaki, maka karomah itu bisa saja didatangkan kepadanya, meski mereka belum pernah melaksanakan istiqomah dengan sempurna.
Wednesday, March 25, 2009
Syaikh Mustofa ke Semarang
Syaikh Mustofa hari ini Rabu, 25 Maret 2008 datang ke Semarang, dengan agenda sebagai berikut :
Rabu, 25 Maret 2009
- Siang rawuh/datang
- Malam Gambang Syafaat
Kamis, 26 Maret 2009
- Pagi pengajian di dr. Bowo, Kagok
- Abis Maghrib Pengajian Kitab Tanwirul Qulb dan Khatamul Kwajagan di Airlangga (Pa Rosyad)
Jum'at, 27 Maret 2009
- Jam 11, Khotbah Jum'at di MAJT
- Jam 13-15 Pengajian Ibu-ibu di MAJT
- Jam 19.00 ON AIR di Radio DAIS, MAJT
Sabtu, 28 Maret 2009
- ke Sumbawa, NTT
Sumber : Mufid
Bagi rekan-rekan yang berkeinginan hadir dipersilahkan meyesuaikan jadwal seperti di atas.
Jadwal lengkap klik disini.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh
Wednesday, March 18, 2009
ASAL MULA TAAT DAN MAKSIAT
اَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَاَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمَ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا
Asal mula sumber segala kemaksiatan dan kelupaan serta kuatnya dorongan syahwat adalah senang memperturutkan nafsu, dan asal mula sumber segala keta’atan dan kesadaran serta kehormatan adalah ketiadaan senang darimu dari memperturutkan nafsu.(Hikam Ibnu Atho’illah)
Meskipun nafsu cenderung mengajak kepada kejelekan, tetapi ia tidak boleh dimatikan. Kalau dimatikan berarti manusia terjebak dalam kejumudan. Maka nafsu harus disiasati dan dikendalikan, jika tidak, maka manusia akan menjadi pesuruh kepentingan.
Hobi memperturutkan nafsu menjadi muassal kejelekan. Mendorong kejahatan dan kemaksiatan, membentuk sifat-sifat yang tercela dan melahirkan kemunafikan. Sedangkan “tidak senang” memperturutkan nafsu merupakan muassal keta’atan dan pengabdian, menjaga kesadaran dan mengokohkan kehormatan.
Ibarat api, nafsu harus dijaga dan dikendalikan, supaya kehidupan membagi kemanfaatan. Jika nafsu dibiarkan, terlebih ikut membonceng dalam kebajikan, maka ia akan menghanguskan impian dan harapan, berarti seorang pejalan akan tersesat dalam kekecewaan. Dengan nafsu dan setan manusia cenderung berbuat kemaksiatan, dengan ruh dan malaikat manusia cenderung berbuat ketaatan. Sedangkan akal dan ilmu harus menentukan pilihan. Ketika akal mengikuti nafsu dan setan, berarti manusia berbuat maksiat dan dosa namun ketika mengikuti ruh dan malaikat, berarti manusia berbuat taat dan mendapat pahala.
Hati adalah tempat cinta kasih, baik kepada sesama maupun kepada Sang Pencipta, juga penguasa di dalam ronga dada yang terjaga. Sedangkan nafsu dan akal bagaikan prajurit-prajurit atau sarana, manakala hati dapat mengatur roda kehidupan, menggerakkan segala perangkat supaya manusia mampu membangun cinta dan membagi pengabdian.
Manakala hati dikuasai oleh nafsu sehingga manusia cenderung memperturutkan syahwat dan hawa, maka itulah muassal dan sebab-sebab timbulnya segala kejahatan. Karena dengan menggunakan segala kecerdikan, hati menjadi perencana tunggal setiap kejahatan yang dilakukan.
Apabila hati dapat mengendalikan tentara supaya manusia dapat mencintai dan mengabdi, berarti itulah hati yang senang kepada kebaikan. Dengan itu akan menjadi pangkal segala kebaikan dan kebajikan, karena hati menjadi perencana setiap diam dan gerak yang dilakukan.
Rahasia Dibalik Pujian
مَنْ اَكْرَمَكَ اِنَّمَا اَكْرَمِ فِيْكَ جَمِيْلَ سِتْرِهِ , فَالْحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ لَيْسَ الحَمْدُ لِمَنْ اَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ.
Orang yang memuliakanmu sesungguhnya hanyalah memuliakan keindahan penutup Allah yang ada pada dirimu, maka segala pujian hanyalah kepada Dzat Yang Menutupimu, bukanlah pujian itu ditujukan kepada orang yang memuliakan dan menerimamu.(Hikam Ibnu Atho’illah)
Setiap yang mulia mesti dipuji dan setiap yang hina terkadang dicela. Itulah sifat manusia. Namun ketika dipuji, itu bukan sebab manusia menjadi mulia, tetapi sifat kemuliaan Dzat yang Maha mulia menutup sifat yang hina. Itulah sifat khususiyah. Dengan sifat khususiyah itu, sifat basyariyah yang semestinya hina menjadi tampak mulia.
Ketika sifat basyariyah yang semestinya hina menjadi mulia, itu semata karena dibungkus sifat khususiyah yang azaliyah. Dengan sifat khususiyah maka manusia pantas dimuliakan sesama manusia. Namun yang dimuliakan itu sejatinya bukan sifat manusia secara basyariyah melainkan keindahan sifat khususiyah yang menutupi sifat basyariyah. Itulah keadaan orang-orang yang bertakwa. Mereka mulia dan dimuliakan orang karena batinnya mulia. Hal itu disebabkan, karena hati mereka telah disinari sifat kemuliaan yang memancar dari kemuliaan Tuhan Semesta Alam.
Yang dimaksud hati bukan gumpalan daging yang ada di dalam lambung manusia. Gumpalan itu hanyalah hamparan dimana hati sanubari yang batin bertahta. Jasad-jasad kasar yang hina sebagai rumah tempat tinggal “ruh kehidupan” akan menjadi mulia, namun itu apabila ruh kehidupan dipancari “Nur kemuliaan” dari Dzat Yang Maha Mulia. Seperti kegelapan malam ketika sirna dan ufuk bumi menjadi terang benderang, itu bukan karena bumi memancarkan cahaya, tetapi matahari sedang menampakkan senyuman. Kalau ada kemuliaan di atas kehinaan, sesungguhnya itu bukan milik yang kasar lagi hina, tetapi sekedar penutup dari Yang Maha Mulia.
Ketika orang memuliakanmu karena engkau memang pantas dimuliakan, ketika orang menghormatimu karena engkau memang terhormat, itu sejatinya bukan karena orang itu menghormatimu akan tetapi menghormati penutup keindahan yang menutupi dirimu. Maka hanya kepada Allah, segala pujian pantas dikembalikan.
Oleh karena pujian adalah pakaian kebesaran-Nya, maka hanya Yang Maha Besar yang pantas memakainya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kebesaran yang bukan milikmu. Jika tidak, maka engkau akan tertindih oleh kebesaran itu sehingga dirimu menjadi hina sebab pujian itu.
Padahal setiap jiwa senang dipuji, apalagi memang ia pantas dihormati. Akan tetapi hati yang ringkih tidak selamanya tahan dipuji, bahkan ia menjadi lebih kuat ketika sedang diuji. Apabila pujian sedang datang menguji, maka kembalikanlah pujian itu kepada yang sedang menguji, dengan itu engkau menjadi kuat baik sedang di puji maupun diuji.
Memang manusia merupakan makhluk yang mengherankan, ketika ujian sedang datang menghantam terkadang kehinaan menjadikan jiwanya semakin matang. Namun ketika giliran pujian orang sedang berdatangan, maka kehormatan semu yang terkadang hanya kamulflase dan bahkan bentuk kemunafikan menjadikan hatinya sempat mabuk kepayang. Selanjutnya kesombongan kosong menjadikan sebab kehancuran.
Adakalanya ketika manusia sedang terhimpit dan mengharapkan pertolongan, saat itu mereka justru mampu menjalankan peran. Bersabar meski di dalam kekurangan, bahkan menjalani kehinaan walau di dalam keterpaksaan, sehingga mereka mendapatkan kemanfaatan, karena berhasil mendapat simpatik orang. Namun anehnya ketika manusia sedang mampu memberi pertolongan. Sehingga mereka pantas mendapat penghormatan. Kemuliaan semu dan bahkan hanya kemunafikan dari orang-orang yang mencari perhatian, menjadikan kesombongan mampu menggantikan kedudukan kemuliaan. Itu karena manusia telah merasa berjasa. Merasa bangga karena hanya kepada dirinya orang membutuhkan pertolongan.
Bagi orang beriman, cacian dan pujian sejatinya sama-sama ujian. Dengan cacian berarti mendapat tusukan dari luar badan, dengan pujian mendapat tusukan dalam perasaan. Oleh karena tusukan dari dalam itu mengenakkan, maka jarang orang dapat bertahan dalam pujian orang. Sehingga pujian malah menjadi penyebab kehancuran. Karena dengan pujian hati yang ringkih menjadi terlena, disebabkan karena setiap yang mengenakkan pasti melalaikan.
Popular Posts
-
Selamat 120 Pemuda Jateng Lolos PKKP 2024 Pengumuman hasil lolos seleksi tahap akhir PKKP 2024 Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat di : S...
-
Contoh pembuatan form pada aplikasi penjualan dengan Java + NetBean + Mysql, komplit dapat di download pada link di bawah. Mohon di implemen...
-
Formulir pendaftaran email, mohon mengisi formulir secara lengkap, email harus valid. Silahkan meng-upload hasil dokumentasi dengan membu...
-
JURNAL : OPTIMASI QUERY MENGGUNAKAN ALGORITMA INGRES PADA PORTAL LUMBUNG DATA PENDIDIKAN JAWA TENGAHAbstrak Portal web Lumbung Data Pendidikan Jawa Tengah memiliki jumlah data record yang besar yaitu 46.442.378 record, dan terdapat tabel ...
-
Belajar membuat form di Java dengan NetBean dan belajar exception. # semuanyaajib Serial Belajar oop with Java Part8 Serial B...
-
Abstrak Supermuseum atau supermarket dan museum suatu model berbasis web yang di dalamnya terdapat kios-kios maya (e-market) yang...
-
Pendaftaran Email untuk Mata Kuliah Pemrograman Berorientasi Obyek Semester Pendek (SP) Genap 2012/2013, data akan di gunakan untuk invite a...
-
Visual foxpro adalah bahasa pemrograman yang populer. Banyak keunggulan yang dimilikinya yaitu yang paling menonjol adalah kemudahan pemakai...
-
Contoh program dari praktikum pertama sampai terakhir ada disini, silahkan download pada link dibawah dan jangan lupa dipelajari. Contoh pro...
-
Formulir pendaftaran email, mohon mengisi formulir secara lengkap, email harus valid. Silahkan meng-upload hasil dokumentasi dengan membu...






